Menafsirkan Amanat dalam Puisi di dalam Bahasa Indonesia
(Sumber: Suharto.2005. Kompeten Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Surakarta: Widya Duta Grafika.)
Pada hakikatnya, setiap karya mempunyai tema dan amanat atau pesan. Tidak terkecuali puisi. Tema puisi, umumnya tidak terlalu sulit dicari. Meskipun begitu, amanat kadang-kadang sukar diterka sehingga pembaca perlu mengorek amanat yang tersembunyi di dalam tema. Pada puisi lama, amanat sangat mudah dipahami karena memang disampaikan secara tersurat. Lain halnya dengan amanat puisi modern yang disampaikan secara tersirat. Pengarang tidak berbicara terus terang atau langsung mengenai amanat puisi tersebut.
Dengan amanat inilah, penyair berharap agar pembaca mau berbuat, bersikap, dan menanggapi puisi. Tindakan pembaca setelah mengetahui amanat puisi kemudian memberikan umpan balik berupa sikap marah, bennci, senang, berontak, tidak percaya, menguji, mendukung, menolak, memaki, memuji, berterima kasih, memberikan penghargaan, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Marilah kita cermati puisi berikut !
Ke Desa
(Aoh Kartahadimadja)
Rang kota!
Pernahkah Tuan ke desa
Menghirup bumi
Baru dicangkul menyegar rasa?
………….
Pernakah Tuan pergi ke kampung
Melihat perawan menumbuk padi
Gelak tertawa disertai suara lesung
Mengenyah duka dari dalam hati?
Pernakah Tuan, pernakah
Ah, setahu apa beta mengubah
Biloa Tuan ingin mencari penawar rengsa
Pergilah Tuan, pergi ke desa!
Pesan puisi tersebut terdapat pada bait terakhir, yaitu: jika ingin lepas dari rasa duka, lesu, malas, tanpa gairah, bahkan sengsara (rengsa berarti: 1. Lemah badan, malas, lesu, 2. Sengsara), pergilah ke desa!
Amanat pada sebagian puisi modern dirumuskan dengan mempertimbangkan ungkapan simbolik. Puisi “Karangan Bunga” karya Taufik Ismail terkandung amanat bagus setelah kita mencermatinya. Marilah kita bahas bersama!
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam dalam karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Sore itu”
Puisi tersebut mengungkapkan kesan penyair terhadap tiga orang anak kecil yang datang ke Salemba tempat markas besar pejuang Angkatan ’66 untuk mengantarkan karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa atas meninggalnya salah seorang mahasiswa dalam suatu demonstrasi menuntut tritura.
Amanat tersirat dari kesan itu dapat dirumuskan sebagai berikut. Dalam menegakkan kebenaran dan keadilan melalui tritura, anak kecil saja menyatakan rasa simpati. Apakah orang dewasa tidak merasa terpanggil untuk hal yang sama? Apakah kalah dengan anak kecil? Oleh karena itu, amant puisi tersebut dapat dirumuskan memperjuangkan kebenaran dan keadilan, jangan kalah dengan anak kecil.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
Interpreting the Mandate in Poetry in the Indonesian
(Source: Suharto.2005. Competent Speak Indonesian and compose literature. Surakarta: Widya Duta Graphic.)
In essence, each work has a theme and the message or messages. Poetry is no exception. Theme of poetry, generally not too hard to find. Even so, the message is sometimes difficult to guess that the reader needs to ferret out the message hidden in the theme. In the long poem, the message is very easy to understand because it is explicitly presented. As with the mandate of modern poetry that conveyed implicitly. The author does not speak frankly about the mandate or direct the poem.
With this mandate, the poet hopes that readers will do, act, and respond to poetry. Mandated action after learning of poetry readers then provide feedback in the form of angry attitude, bennci, happy, rebel, do not trust, test, support, refused, cursing, praise, thank, reward, and apply in everyday life.
Let us look at the following poem!
To the Village
(Aoh Kartahadimadja)
Rang town!
Have Tuan village to
Inhalation of the earth
New hoe refresh taste?
.............
Mr. HAVE to go to the village
See virgin pounding rice
Voice Laughter with dimples
Mengenyah sorrow of the heart?
Mr. HAVE, HAVE
Ah, as far as what beta change
Mr. Biloa want to find a bidder spiritless
Mr. Go, go to the village!
Contained in the message of the poem the last verse, which is: if you want to escape from grief, lethargic, lazy, listless, even miserable (spiritless means: 1. Weak body, lazy, lethargic, 2. Miserable), go to the village!
Mandate on most modern poetry formulated by considering the symbolic expression. Poem "Bouquet" by Taufik Ismail mandate contained good after we observe. Let's discuss together!
Bouquet
Three small children
In step shy
Coming to Salemba
That afternoon
"It's from the three of us
Black ribbon in a bouquet
Because we're very sorry
For the sister who was shot dead
Afternoon "
The poems reveal the poet's impression of three small children who come to the place Salemba Force fighters '66 headquarters to deliver a bouquet of flowers as a token of condolences on the death of a student in a demonstration demanding Tritura.
Implied mandate of the impression it can be formulated as follows. In upholding truth and justice through Tritura, small children expressed sympathy. Do adults do not feel compelled to do the same? Is losing with young children? Therefore, the poem can be formulated Amant fight for truth and justice, not to be outdone by minor children.