Perang Pengaruh Cina
(Sumber: Ali, Nur. Modul Bahan Ajar Sejarah. Ponorogo: MGMP.)
1) Keadaan Cina Sebelum Perang Dunia Kedua
Setelah terjadi Revolusi Cina yang dikenal dengan “Revolusi The Double Ten Day” pada tanggal 10-10-1911, di bawah pimpinan Dr. Sun Yat Sen, maka berdirilah Republik Cina dengan ibukota Nanking. Namun di Cina Utara masih berdiri dengan kuat pemerintah Dinasti Manchu di bawah Kaisar Pu Yi dengan ditunjang oleh Jenderal Yuan Shih Kai. Demi persatuan dan kesatuan, Dr. Sun Yat Sen bersedia berunding dengan Jenderal Yuuan Shih Kai dan Dr. Sun Yat Sen bersedia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Yuan Shih Kai asalkan kekusaan Dinasti Manchu diakhiri. Pada tanggal 15 Februari 1912, disepakati yang menjadi Presiden adalah Yuan Shih Kay dan berkuasa atas seluruh Cina dengan ibukota Peking (sekarang: Beijing), sedangkan Dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri dan mendirikan partai Nasionalis Cina (Kuo Min Tang) dengan semboyan San Min Chu I, yaitu tiga sendi kedaulatan rakyat yang meliputi nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme.
Setelah menjadi Presiden, Yuan Shih Kay malah bertindak otoriter bahkan Yuan Shih Kay berkeinginan untuk menjadi kaisar. Akibatnya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, namun sangat disayangkan, Dr. Sun Yat Sen meninggal dunia pada tahun 1924, kemudian digantikan oleh Jenderal Chiang Kai Shek. Sementara itu atas pengaruh komunis Rusia, pada tahun 1921, berdirilah Partai Komunis Cina (Kuo Chan Tang) dipimpin oleh Li Lisan yang juga melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Yuan Shih Kay.
Atas saran Uni Soviet (Rusia), pada tahun 1926, Partai Komunis dan Partai Nasionalis akhirnya bersatu melawan pemerintah Yuan Shih Kay dan berhasil mengalahkannya. Maka berdirilah pemerintah Republik Cina yang berpusat di Nanking. Karena partai nasionalis berkeinginan untuk berkuasa atas seluruh Cina dengan mengabaikan Partai Komunis, akhirnya pada tahun 1927, terjadi perang saudara kembali antara Partai Nasionalis dengan Partai Komunis. Partai Komunis pimpinan Mao Zedong yang masih belum kuat, akhirnya melakukan “Long March” dari Kiangshi (Cina bagian Selatan) ke Yenen (Cina bagian Utara) dengan jarak 9.000 km, mulai tanggal 1 Oktoer 1934 sampai dengan tanggal 1 Oktober 1935. Tujuannya untuk menjauhkan diri dari pusat pemerintah kaum nasionalis dan mendekatkan diri dengan sekutu utamanya, yakni Uni Soviet (Rusia).
2) Keadaan Cina sesudah Perang Dunia Kedua
Seemntara di Cina terjadi perang saudara, dibalik itu imperalisme Jepang sudah diambang pintu untuk menguasai daerah Cina. Atas perantara Chang Hsu Liang, pada tahun 1937 terjadi “Sian Insident” yaitu pertemuan di Sian, antara Chiang Kai Shek dan Mao Zedong, mereka sepakat bersatu untuk melawan fasisme Jepang. Dengan terjadinya “Insiden Jembatan Marcopolo” tanggal 7 Juli 1937, meletuslah Perang Pasifik (Perang Dunia Kedua di Asia) antara Cina (Nasionalis dan Komunis) melawan fasisme Jepang. Cina Nasionalis dibantu oleh Sekutu, sedangkan Cina Komunis dibantu oleh Uni Soviet.
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir dan Jepang kalah, konflik antara Cina Komunis dengan Cina Nasionalis meletus kembali, mereka berkeinginan menjadi penguasa seluruh Cina. Namun kali ini Cina Komunis lebih kuat dari Cina Nasionalis. Dengan “Long March” yang pernah dilakukan, ditambah kedisiplinan dari para pemimpinnya dan program membagikan tanah kepada petani, praktis Cina Komunis mendapat dukungan penuh dari kaum petani yang menjadi mayoritas penduduk Cina.
Pada tanggal 1 Oktober 1949, Mao Zedong memproklamirkan berdirinya Republik Rakyat Cina (People’s Republic of China) dengan ibukota Beijing. Sedangkan Cina Nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek yang cenderung korupsi dan di dukung oleh tuan tanah, tersingkir dari Cina Daratan. Mereka kemudian melarikan diri ke pulau Taiwan dan mendirikan Negara Taiwan (Republic of China) yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek.
Kehadiran Republik Rakyat Cina dengan paham komunisme tentu saja menjadi pesaing baru bagi Blok Barat. Kemampuan Republik Rakyat Cina membangun angkatan bersenjata dan tentara yang besar, kemampuan tenaga ahlinya yang mampu membuat bom atom, dan keberhasilan dalam menata kepemilikan tanah (landreform) menjadi ancaman tersendiri bagi Blok Barat. Suasana Perang Dingin di Asia semakin mencekam setelah komunis Cina meluaskan ajaran Mao Zedong ke Negara berkembang lainnya.
3) Hubungan Republik Rakyat Cina dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet
a) Ancaman atas komunisme Cina Daratan tersebut bukan hanya menimpa Amerika Serikat dan Negara Blok Barat, tetapi Uni Soviet sendiri juga merasa khawatir atas perkembangan komunisme Cina, bahkan hubungan kedua Negara komunis terseut menjadi retak, hal ini disebabkan oleh:
Ø Uni Soviet menuduh Republik Rakyat Cina mengubah komunisme yang bertumpu pada buruh (Industri) menjadi bertumpu pada petani (Pertanian), sebaliknya Republik Rakyat Cina malah menuduh Uni Soviet mengkhianati komunisme,
Ø Uni Soviet menolak untuk membantu Republik Rakyat Cina sewaktu terjadi perang masalah perbatasan dengan India pada tahun 1962,
Ø Republik Rakyat Cina mengecam kebijakan Uni Soviet untuk hidup berdampingan secara damai dengan Blok Barat dengan menandatangani Perjanjian Kerjasama Uji Coba Persenjataan Nuklir tahun 1963.
b) Renggangnya hubungan Uni Soviet dengan Republik Rakyat Cina dijadikan kesempatan emas oleh Negara Blok Barat untuk membuka hubungan diplomatic dengan Republik Rakyat Cina. Pada tahun 1970, Kanada membuka hubungan diplomatic dengan Republik Rakyat Cina. Pada tahun 1971, Amerika Serikat menerima Republik Rakyat Cina sebagai Dewan Keamanan Tetap Perserikatan Bangsa-Bangsa menggantikan Taiwan. Kemudian pada tahun 1972, Presiden Amerika Serikat, Richard M. Nixon berkunjung ke Republik Rakyat Cina yang nantinya melahirkan Perjanjian Sanghai. Dekatnya hubungan Amerika Serikat dengan Republik Rakyat Cina, mengkhawatirkan Uni Soviet, oleh karena itu pada tahun 1973, Presiden Uni Soviet, Leonid Bresnec berkunjung ke Washington dengan tujuan mengajak Amerika Serikat untuk menghadapi Republik Rakyat Cina. Namun ajakan tersebut ditolak oleh Presiden Richart M. Nixon. Hubungan Amerika Serikat dengan Republik Rakyat Cina semakin baik dengan dibukanya hubungan diplomatic antar kedua Negara pada tahun 1979.
c) Hubungan baik antara Amerika Serikat dengan Republik Rakyat Cina, lama kelamaan terganjal setelah tampilnya Presiden Ronal Reagan sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada tahun 1981, Presiden Ronal Reagen mengecam ekspansi Republik Rakyat Cina ke Tibet, kemudian Amerika Serikat memberi bantuan senjata ke Taiwan, padahal Taiwan merupakan musuh Republik Rakyat Cina dan dianggap sebagai salah satu provinsi Republik Rakyat Cina yang membangkan. Akibatnya, hubungan Republik Rakyat Cina dengan Amerika Serikat menjadi retak. Kesempatan emas tersebut digunakan sebaiknya oleh Presiden Uni Soviet, Leonid Bresnev untuk berkunjung ke Beijing pada tahun 1982 menjumpai Presiden Republik Rakyat Cina, Deng Xioping guna melakukan normalisasi hubungan Uni Soviet dengan Republik Rakyat Cina.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
War of Chinese Influence
(Source: Ali, Nur. Modules Materials Teach History. Ponorogo: MGMP.)
1) Chinese situation before the Second World War
After the Chinese Revolution that are happening with "The Revolution Double Ten Day" on 10-10-1911, under the leadership of Dr. Sun Yat Sen, and stood Republic of China and the capital of Nanking. But in Northern Chinese government still stand strong Manchu Dynasty under the Emperor Pu Yi to be supported by General Yuan Shih Kai. For unity and union, Dr. Sun Yat Sen, prepared in consultation with the General Yuuan Shih Kai and Dr. Sun Yat Sen ready to submit to the leadership provided Yuan Shih Kai means within the Manchu Dynasty ended. On February 15, 1912, agreed that the President is Yuan Shih Kay and rule over all the Chinese capital Peking (now Beijing), while Dr. Sun Yat Sen to step back and set up the Chinese Nationalist party (Kuo Min Tang) by signaling the San Min Chu I, that joint sovereignty of three covering nationalism, democracy and socialism.
After becoming President, Yuan Shih Kay even authoritarian act even Yuan Shih Kay would like to be emperor. Consequently happen rebellion led by Dr. Sun Yat Sen, however, very unfortunate, Dr. Sun Yat Sen died in 1924, later replaced by General Chiang Kai Shek. Meanwhile the Russian communist influence, in 1921, the Chinese Communist Party Stand (Kuo Chan Tang) led by Li Lisan who also staged a revolt against the ruling Yuan Shih Kay.
At the suggestion of the Soviet Union (Russia), in 1926, the Communist Party and the Nationalist Party government finally united against Yuan Shih Kay and successfully defeated him. Then stood Republic of China government based in Nanking. Because nationalist parties desire to rule over all the Chinese at the expense of the Communist Party, finally in 1927, there was a civil war between the back of the Communist Party of the Nationalist Party. Mao Zedong's Communist Party leaders are still not strong, finally doing the "Long March" from Kiangshi (the South China) to Yenen (China North part) by a distance of 9,000 miles, from 1st Oktoer 1934 through the date of October 1, 1935. The aim is to stay away from the central government and the nationalist community closer to its main ally, namely the Soviet Union (Russia).
2) Chinese situation after the Second World War
Seemntara in the Chinese civil war happened, it flipped the door imperalisme Japanese are about to conquer China. On intermediary Chang Hsu Liang, in 1937 occurred "Sian incidental" meeting in Sian namely, between Chiang Kai Shek and Mao Zedong, they agreed to unite to fight against Japanese fascism. With the occurrence of "Marcopolo Bridge incident" July 7th, 1937, meletuslah Pacific War (World War II in Asia) of China (Nationalist and Communist) against Japanese fascism. Chinese Nationalists aided by the Allies, while the Chinese Communists aided by the Soviet Union.
After the Second World War ended and Japan lost, the conflict between the Chinese Communists and the Chinese Nationalists broke back, they aspired to be ruler over all Chinese. But this time stronger than Chinese Communist Chinese Nationalists. With the "Long March" has ever done, plus a discipline of its leaders and programs distribute land to the peasants, the Chinese Communist practice getting the full support of the majority of peasants into the Chinese population.
On October 1, 1949, Mao Zedong proclaimed the founding of the People's Republic of China (People's Republic of China) with the capital Beijing. While the Chinese Nationalists led by Chiang Kai Shek who tend corruption and supported by the landlord, knocked out of Mainland China. They then fled to the island of Taiwan and set up the National Taiwan (Republic of China), led by Chiang Kai Shek.
The presence of People's Republic of China to communism credo of course be a new contender for the West Block. People's Republic of China to develop the ability of the armed forces and a large army, the labor of its members who are able to make an atomic bomb, and success in organizing land ownership (landreform) be distinct threat to the West Block. The atmosphere of the Cold War in Asia is gripped after Chinese communist Mao Zedong's teachings extend to other growing country.
3) People's Republic of China relations with the United States and the Soviet Union
a) the threat of Chinese communism Land is not just strike the United States and its Western Bloc country, but the Soviet Union itself also are concerned over the development of Chinese communism, but relations between the communist countries fea-ture to be cracked, this is caused by:
Soviet Union accused the communist People's Republic of China, which focuses on changing labor (industry) to be focused on farmers (agriculture), but even accused the People's Republic of China Soviet Union betrayed communism,
Soviet Union refused to help the People's Republic of China during the war happened border problems with India in 1962,
People's Republic of China denounced the Soviet policy of peaceful coexistence with the West Block Trial sign a Cooperation Agreement Nuclear Weapons in 1963.
b) the discord between the Soviet Union with the People's Republic of China made a golden opportunity by State West Block to open diplomatic relations with the People's Republic of China. In 1970, Canada opened diplomatic relations with the People's Republic of China. In 1971, the United States received the People's Republic of China as a Permanent Security Council of the United Nations to replace Taiwan. Then in 1972, the President of the United States, Richard M. Nixon visited the People's Republic of China who later gave birth Sanghai Agreement. Nearby U.S. relations with the People's Republic of China, worried about the Soviet Union, therefore, in 1973, President of the Soviet Union, Leonid Bresnec traveled to Washington with the intention of inviting the United States to face the People's Republic of China. Yet invitation was rejected by President Richart M. Nixon. U.S. relations with the People's Republic of China is getting better with the opening of the diplomatic relations between the two countries in 1979.
c) the relationship between the United States with the People's Republic of China, eventually hampered after appearing President Ronal Reagan as President of the United States. In 1981, President Ronal Reagan denounced the expansion of the Tibetan People's Republic of China, and the United States give aid weapons to Taiwan, while Taiwan is the enemy of the People's Republic of China and is regarded as one of the provincial People's Republic of China membangkan. As a result, the People's Republic of China relations with the United States to be cracked. Golden opportunity to good use by the Soviet Union President Leonid Bresnev to travel to Beijing in 1982 found President People's Republic of China, Deng Xioping to initiate the normalization of relations with the Soviet Union People's Republic of China.