-->
LEADER INEQUITABLE
Pagi pagi disekolah sekarang terasa sangat sibuk. Fran yang duduk di kelas XI PA ribet sendiri ngerjain tugasnya. Tugas tugas numpuk, dan sekarang juga harus selesai, karena hari ini waktunya Fran buat presentation dan pengumpulan tugas akhir.
Dalam pambagian tugas, Fran memilih tugas No.2 pada tugas agama. Dan Fran juga sudah bilang (konfirmasi) dengan Ketua kelas, atau panggil saja Dian.
Dan Dian mengiyakanya atau mengijinkan Fran mengerjakan tugas 2. Karena masing masing kelompok tugasnya harus berbeda beda.
Hari ini, waktunya prsentasi. Tapi ternyata ada kelompok yang juga mengerjakan tugas 2 sama halnya dengan Fran. Ini adalah kesalahan Dian yang kesekian kalinya.
Dan Dian berkata: “Fran, kamu tugas no.3 saja. Karena tugas 2 sudah dikerjakan si fista "
Dengan mudahnya, Si Dian bilang begitu. Hal ini membuat Fran sangat kecewa. Karena di hari itu dia harus presentasi.
Fran: “ oh.. aku baru tau watak dan sikapmu sebenarnya. Dan ini ternyata kau”
Dalam hati Fran, dia sangat kecewa. Tugasnya jadi berantakan karena Dian. Dan kenapa harus dia yang menerima akibat dari kesalahan Dian.
Tapi kemudian Fista mendatangi Fran. Dan berkata bahwa dia yang paling “WAH”.
Fista: “kamu pilih tugas dua apa tiga?, masalahnya sekarang, bukan siapa dulu yang bilang ke ketua kelas, Dian. Bukanya kemarin udah ditentuin?”
Fran: “kapan Dian nentuin? Dia nggak pernah nentuin. Dan dia juga nggak pernah ngurursn. Dia hanya memikirkan kegiatan di luar kelas tanpa ada tanggungjawabnya sebagai ketua kelas.”
Fran sangat kacau hatinya. Dia menyuruh teman satu kelompoknya untuk menghapus semua data data yang telah dikumpulkan. Tapi Fista tiba tiba datang lagi.
Fista: “ ya sudah aku saja yang ngerjain tugas No. 3”
Nah, si Fran bingung lagi dibuatnya. Seenaknya saja Fista nentuin. Sebentar dia ngomong A, dan sebentar di ngomong B. Dalam hati Fran berkata: “ Mau mereka apa sich? Aku bukan mesin yang setiap saat bisa mengolah data, dan sekejab bisa jadi”.
Tapi, hari ini, Allah menolong Fran. Hari ini presentasi dibatalin. Dan diundur sampai ada jadwal mapel Agama lagi.
Keesokan harinya, tugas juga masih numpuk. Hari ini, gantian waktunya ngebahas soal buat drama. Tinggal kelompok 3 dan 4 yang sebenarnya belum perform. Kebetulan kelompok Fran, Kelompok 1 dan 2 sudah perform beberapa hari yang lalu.
Tiba tiba, Dian datang dari kantor membawa sebuah berita. Dan seenaknya juga dia ngomong.
Dian: “ e..e… besok yang tampil kelompok 4 dulu. Minggu depan baru kelompok 3.”
Teman Fran yang kelompok 4, Dewi, merasa ada yang janggal. Masa iya, gurunya bisa nyuruh seperti itu. Kelompok 4 dulu, baru kelompok 3 yang sebenarnya kelompok 3 itu kelompok Dian dan Fista.
Fran: “ Sabar aja Dewi, itu sikap Dian dari dulu. Kalau ngomong seenaknya yang penting nggak ngrugiin dia, tapi nggak mikiran apa akibatnya buat orang lain. Egois ya tetap saja egois”
Dewimasih sebel. Ia hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Fran. Fran berusaha menghiburnya.
Fran masih amat sangat jelas, kalau Dian ditegur, dia malah membalikanya lagi dan berkata bahwa dia itu sebenarnya menanggung tugas yang berat. Dan suka menyuruh, tapi padahal itu juga kewajibanya.
Dian: “ coba kalau kamu diposisi ku, ganti’in aku jadi ketua kelas. Nggak mudah tau”
Itu yang selalu diucapkannya. Membuat kuping Fran gerah. Fran tau memang tugas ketua kelas nggak mudah. Tapi, yang dimaksud Fran itu, jangan mengambil keputusan secara sepihak damn sekejap.
Waktu presentasi itu, guru telah memberi waktu selama 1 minggu untuk pembuatan tugas itu. Dan dalam pembuatan yang lainya, guru juga selalu memberi waktu longgar. Tapi Dian selalu sibuk dengan acaranya diluar kelas. . . dan lebih mementingkan itu dari pada kewajibanya sebagai ketua kelas…
Dan sampai sekarangpun, sikapnya itu masih melekat kuat pada Dian. Fran berharap, Tahun depan akan mendapat ketua kelas yang lebih baik lagi.
Bukan maksud Fran tidak menghargai Dian sebagai ketua kelasnya selama ini, tapi Fran hanya ingin tak ada lagi yang namanya “leader inequitable” ketua yang tidak adil.
Maka sebisa mungkin, tanggapilah hal yang lebih penting. Hal yang telah dipercayakan padamu. Dan tanggungjawablah pada apa yang kamu lakukan. Bersikap adil lebih baik dari pada bersikap tegas yang merugikan orang lain. Pemimpin tak boleh egois dan bersikap sepihak. Sihingga ‘leader inequitable” tak melekat pada dirimu.