Di kamar, saat hujan deras.
Banyak hal yang kutakutkan di dunia ini. Salah satunya hujan. Sebenarnya aku menyukai hujan. Karena, menurutku, saat hujan terasa ada musik yg bisa membuat tidur menjadi pulas. Aku juga suka gerimis yang kata orang romantis. Tapi, bukankah gerimis biasanya merupakan suatu aba-aba untuk hujan yg lebih deras lagi? Nah, itu yg kutakutkan. Aku takut dengan hujan yg sangat deras, disertai angin kencang, dan diselingi dengan petir yg bersaut-sautan.
Saat itu terjadi, apalagi di malam hari, aku suka parno. Aku takut saat aku tidur tiba-tiba terasa basah (baca: banjir). Aku takut tsunami tiba-tiba datang (apa hubungan tsunami dengan hujan?). Saat main handphone, tiba-tiba petir memberi kejutan, duarr!, aku takut jadi gosong karena tersambar (naudzubillah). Dan masih banyak pikiran aneh lainnya.
Kata guru fisika smpku dulu, Balikpapan merupakan kota petir. Nah, kalo petirnya guede banget suaranya. Aku kadang bertanya-tanya, "Ya Allah, apakah engkau sedang marah?". "Kalo emang marah, Engkau marah sama siapa?". "Apakah kepadaku, karena aku sering melalaikan perintahmu?". Yeah, mungkin saja Allah marah. Padaku, atau pada orang lain yg sering melupakan-Nya. Maka, selain menakutkan, hujan juga bisa dijadikan moment untuk introspeksi diri dan memohon ampunnya. :D
Terlepas dari segala ketakutan, yang utama hujan merupakan berkah. Berkah bagi petani untuk mengairi sawahnya, dan tentunya berkah bagi dunia, bagi kita semua. Berkah itu diberikan ALLAH melalui perantara Malaikat-Nya, Mikail. Hujan merupakan berkah yg tiada tara. Bayangin, kalo di dunia ini gak pernah ujan seminggu aja. Wah, bisa gila kegerahan dan kekeringan. Maka, bersyukurlah. Alhamdulillah. :D
The end, dan ujannya udah reda. Alhamdulillah. :D