Media Pembelajaran SMP VII Genap Menulis Kreatif Puisi


Puisi-puisi Jumardi Putra
Editor: Jodhi Yudono


Petitihmu
Kusulam petitihmu di sepilihan sutra Kulekatkan di dinding bukit talanca menyiangi puntau nan galau Kularung sukmamu di kedalaman malam Merengkuh taji yang kugali
Kuselam semesta tuahmu Karang-karang yang meraung-ronta diunggah jala asa ketika mengaga Mencakar-cabik pikir gamang memilah serbuk busuk yang lembab di sebidang hatiku
Aku, di kerlip ulur-antarmu adalah rembulan-matahari.
   Jambi, 20/01/2011.
Sunyi
: Isbedy Stiawan ZS
I/ Sebelum Kubawa kau ke pucuk sunyi dan aku mengepak sayap untuk terbang menuju ke arah sana Bersilalah di sampingku, barang sejenak bercakap-cakap di bawah lengkung malam tentang sepi yang menyerupai mati*
II/ Tersebab gelas-gelas kopi dihidangkan di laman rembulan Mari berusulang saja, kawan Barangkali, sedering malam merangkulmu pada sepi yang tak mengikat* karena kau mencintai sunyi*
III/ Sedari, padang cahaya nun jauh di sana tak pernah kau persoalkan jarak dan air mata menuju ke arah sana Tersebab hatimu berbalut rembulan dan matahari sehingga rerimbunan kerikil yang membangun gelap bisa kau lewati Sunyi, bukan lagi sepi, apalagi mati.
IV/ Bening embun melatari dinding hati Serasa sunyi adalah muaranya Pada yang sunyi Kau berteguh hati.
*larik dari puisi Sendiri itu Sunyi (miring), karya Isbedy Stiawan ZS, 10.01.2011/Taman Budaya Jambi/FB.
-Jambi, 11-01-2011.
Aku, KembarBatu dan TelagoRajo
I/ Kuhadapkan wajahku pada tepi kolam Telagorajo*, lalu kutemukan wajahku yang porak-poranda. Sejenak, kupalingkan muka, sembari menghitung-ulang, sejatinya langkahku ke mana saja arahnya dan diperuntukkan pada sesiapa. Seolah ingin melawan gusar, sesampah di dekatnya pun kuseka perlahan-lahan, agar bening itu tak pecah sepecah-pecahnya.
II/ Kupanggul sepilihan bata yang telah diselimuti lumut tuk menyumbat lubang yang terbuang di Candi Kembarbatu*. Selalu jatuh. Dan sesaat kemudian pipiku ditetesi bebutiran bening, yang datang dari sumber yang tak tahu pasti. Sejenak kurenung, tak juga sua. Tapi yang kutahu, sisa-sisa kebesaran itu masih ada, di sini, di Tanah Pilih. Aku pun terus mengayun langkah, sembari memohon, pada segala yang benda maupun yang tak benda, di sini, memanggilku suatu saat, lalu menerbangkanku ke suatu masa, di mana keemasan itu dicicil satu persatu, lalu tumbang.
III/ Sedering malam Dalam liukan angin yang menyemuti dingin Reranting bernyanyi di ruang sunyi lalu mendekapku tanpa isak dan perlahan-lahan mengejaku pada sepilihan khabar: agar kembali menapak ke arah candi “Ya…bebutiran bening yang jatuh tepat di pipiku, mesti menemukan jawabnya”, imbuhku seketika
IV/ Reruntuhan risalah itu Kutata kembali Di sini, sebidang tanah tak terjamah. Abadi.
Tak akan ada lagi yang jatuh Kemudian menjelma lubang-lubang kelam Karena memang bebutiran itu adalah sejatinya pelekat.
V/ Bahwa sumber itu ada dan mengada Aku tunduk setunduk-tunduknya.
NB:*bagian dari Situs Percandian MuaroJambi. Situs terluas di Nusantara.
-Jambi, 13 Januari 2011.
Di Sepertiga Malam
Pada bulan yang sabit, tak kudengar riak binatang malam. Hanya sepilihan butir bening mengisahkan sehimpun hikayah; Tentang seekor merpati memangku kekasihnya, lantaran jatuh sakit di pertigaan jalan ibu kota, Tentang sepasang kakek-nenek yang memungkasi hidupnya di bukit dua belas, lantaran hidup di keramaian kota dengan segala benda, tak lagi menyembulkan wewangian sukma Tentang seorang janda lah laruik sanjo* menyarungkan sabitnya dan memanggul karung rumput demi ternaknya.
Di Sepertiga Malam itu Hujan tak kelabu Aku pun terjaga dan terus menapak.
*lanjut usia.
-Bungo, Desember  2010.
Moonthana
Adalah surat darimu, perihal taman bunga di Istana Keyla, di tahun lalu, di bawah rinai hujan, kini, kubuka lagi sepenuh hati, meski kelokan dan tanjakan dari bebukitan karet dan sawit adalah jarak yang selalu mengukur sejauhmana kesungguhan kita dalam bersama; mengarungi bahtera cemara, dengan segala daya. Nirmala, waktu tak akan melumut, minimal bagiku, karena kau pulang tepat dalam penantian cerita-cerita tengah malamku, yang terkadang mengundang decak kagum sekaligus getir. Yakni rembulan dan kesepian bermadu kasih di keranda asa. Serbuk sari nan wangi, sekaligus tangan-tangan dingin yang saling memangku menghantarkan perahu-perahu kertas bagi para pelaksana kata-kata, ungkapmu selalu padaku, untuk terus menapak di Bumi Langkah Serentak Limbay Seayun*. Ya..Purnama singgah di lamanku, beberapa waktu yang lalu, sekejap namamu membunga di lembah imajiku. Tanpa tendeng aling-aling, sesaat kuhaturkan padanya, bahwa kau adalah Nirmala yang tak sepi dan menyelesaikan malam dalam damai, hingga esoknya mengukir tintas emas di kemah peradaban. Helai demi helai, benih unggul untuk di kemudian hari telah kau tanami, menyusul kemudian kau siriami di setiap pagi agar tak layu dan mati. Nirmala, nun jauh di sana, sehimpun sukma kutitipkan pada semilir angin agar sampai di Istana Keyla, sebagaimana aku, yang kini sedang diselimuti girang, karena tengah mengerjakan sebuah perahu, guna menjemputmu, nanti. Nirmala, sirnalah kekhawatiranmu, pada setiap malam akan ada yang mengantarmu pulang, karena alamat yang akan dituju telah kutemukan. Penat, bimbang, bahkan bulir air mata penanda kebahagiaan, biarlah, tak usah diambil hati, karena itu bagian dari keseimbangan.
* gotong royong
*Jambi, 6 Januari 2011
Empelu
Tik tik tik Tik tik tik ... Menepuk-nepuk punggung jamban Riak riang bocah-bocah Empelu* menyandingi irama kecipak bebutiran berkilau
  Tik tik tik ... Sehimpun papan bulian jadi longgar Sepilihan rotan yang mengikatkannya laruik sanjo Anak tangga tak lagi selusin Reruntuhan tebing kian kemari
Di atas jamban Segelintir emak mengurai resah tentang ayat-ayat Tuhan yang tak lagi merebana
Tik tik tik ... Aku mengeja kembali tentang kampungku yang berganti baju Kancing demi kancing dianggap tak perlu
  Tik tik tik ... Terongkeng mati sebelum waktunya.

*Empelu, sebuah desa di pelosok Nusantara,  tepatnya di Kec. Tanah Sepenggal, Kab. Bungo provinsi Jambi.
- Jambi, 22 Januari 2011
Biodata Penulis
Jumardi Putra: Pegiat sastra. Lahir di Empelu, pelosok dusun dari Provinsi Jambi, tanggal 28 Maret 1986. Beberapa puisinya telah dimuat di beberapa Koran lokal Sumatra, media online sastra serta telah dibukukan dalam beberapa Antologi Bersama: Beranda Senja (Kosa Kata Kita 2010), Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 (Dewan Kesenian Mojokerto), Menjaring Cakrawala (Wahana Jaya Abadi, 2011), dan Kado untuk Indonesia (2011). Indonesia di Mata Penyair (e-book, dalam proses). Selain karya puisi, juga aktif menulis artikel dan resensi buku. Kini, dipercaya memangku jabatan Wakil Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Komisariat Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Kini tinggal di Jambi.

 













.