Puisi-puisi Linda Wahyu Setyaningrum
Editor: Jodhi Yudono
Rawang Bulan
lengan plastik kusam dan telur-telur menyentuh debu lapak tua tak bergeming berjaga pada bulan yang menelan nasib di pasar demangan
2010
Almanak Gelap
memandang langit: gemintang meruntuh gelap dalam bulan koyak
ah, ini damai kupetik dalam dawai sebelum angin meniup lilin di loteng jemuran: pukul satu pagi terlalu dini
Busur-busur panah waktu menyiku sepi Jadi hitungan detik yang mengapung Di mana pintu surga Biar kuintip dari lubang langit gelap Ini hari kuterima lagi sepotong kalimat sunyi,
“Malaikat kecil duduk di depan pintu mengetuk Surga yang gelap. Kisah yang berbatas Dan engkau yang mengantuk.”
Dalam likat pohon belimbing di beranda, mungkin bintang kecil, sebuah almanak kurapal pelan-pelan
2010
Buah Tangan Penyair Hujan
goyang rerumput berkalung pita kusut pelangi pengemas embun dalam kantung serat hijau
bola bening itu: memainkan lelagu alam jangan lekangi matari, jangan
simpan saja, ini untukmu: buah tangan dari penyair hujan
2010
Suatu Kali
Berjalan menemui kekasih, suatu kali Sebelum angin menyusutkan kisah Hujan yang terlambat berkasih
“Senja ini kau kutunggu.”
Katanya sambil menulas rokok Yang sedari tadi dikulum Pada kelu bibir dingin
2010
MEMBIAS SUARA : untuk the city of tolerance
dendang bambu jejaki telinga anak semua bangsa
“tak pernah ibu ajarkanku duduk di sini.”
Jatuhi kaca, membias sukma meliuk bebareng udara antarkan hikayat beringin bertuah
dalam ribaan selatan istana
“susupi keduanya, kau tak perlu memejam mata.”
dengarkah? rapal ujung nada menuju utara sedang bibir jalan ini berkata
“akankah kotak bertulis itu untuk saudara?”
Yogyakarta, 2011
SAGU-SAGU YANG RAGU --buat sagu-sagu Wasior
1. air mengalir sampai jauh* resah menitir sampai peluh
di radio: Gesang telah lama datang
rumah membenam esok matahari linglung
sagu-sagu pucat keriput menghisapi bangkai-bangkai
di akar, di tanah, di langit, di air di doa
menyusut dingin sagu-sagu mulai ragu berbuah
:mayatkah di umbiku? mayatkah di batangku?
2. air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut*
ruh bepergi
hingga ke Kiot: ke dalam jarak di rumah asal
2010
*baris ini berhutang budi pada lagu legendaris Bengawan Solo, karya maestro keroncong: Gesang.
ITU KUKU SIAPA LAGI
seperti gambar kartu lebaran kota-kota dilemparkan
selagi takbir; tabir yang luka terbuka
letih berdebu orang kehilangan layang
gelap menikam kepala : di pengungsian
kunang-kunang terus berdatangan --itu kuku siapa lagi?
yang mati di pemandian debu hilang diri tinggal arang
arang kangenku pada ibu yang hilang
2010
Linda Wahyu Setyaningrum, terlahir di Kebumen pada 22 Februari 1990. Saat ini sedang menempuh studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Tinggal di Karangmalang C.7 Yogyakarta. Pernah sebagai nominator The Bali Photo Festival 2010 dan nominator lomba fotografi Pekan DAS Brantas 2010,Universitas Brawijaya.