Berbagai bentuk kesenian Jaranan di pulau Jawa / Jaranan various art forms in Java FOR GENERAL ART CULTURE


Berbagai bentuk kesenian Jaranan di pulau Jawa

(sumber: Himawan.2007. Kesenian Turonggo Yakso Trenggalek. Surabaya; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.)

1) Jaranan bumbung

                Kesenian Jaranan Bumbung berkembang di daerah Kalangbret, Tulungagung, Jawa Timur. Melukiskan para prajurit penunggang kuda. Jumlah penari tidak terbatas hanya saja karena berpasangan pada umumnya berjumlah genap antara enam hingga delapan orang. Semua penari laki-laki, masing-masing membawa satu jaranan. Jaranan ini disebut Jaranan Bumbung karena music pengiringnya adalah Bumbung. Bumbung adalah bambu yang dipotong dalam berbagai ukuran sehingga ketika diketuk ke bawah menghasilkan berbagai macam bunyi yang apabila dipadukan bisa menghasilkan irama yang unik dan enak di dengar. Pertunjukan Jaranan Bumbung ini biasanya diselenggarakan pada sore hari sesudah aktifitas di sawah selesai, dimainkan dengan kostum yang relative sederhana, namun tetap menggambarkan seorang prajurit.

2) Jaranan Pogogan

                Hampir sama dengan jaranan Bumbung, tari Jaranan Pogogan ini menggambarkan prajurit, yang dimainkan oleh 4 (empat) orang, terdiri dari seorang Kepala pasukan atau Senopati, Tumenggung yang sekaligus berperang sebagai pelawak dan 2 (dua) orang berperang sebagai prajurit wanita. Pada intinya tarian Jaranan Pogogan ini menggambarkan cerita kepahlawanan. Fragmen cerita Panji yang dipertunjukkan adalah cuplikan ketika Raja LembuAmiluhur meminta prajurit untuk mencari jejak hilangnya putri mahkota, yakni DewiSekartaji. Di tengah adegan tersebut seringkali terjadi adegan atau dialog yang lucu antara tumenggung dengan prajurit maupun dengan penabuh gamelan. Sebagaimana seni pertunjukan rakyat pada umumnya, kostum maupun seni gerak dalam Jaranan Pogogan ini sangat sederhana. Senopati digambarkan mengenakan mahkota dari kulit lembu yang biasa disebut “Sasra”, demikian juga Tumenggung, mengenakan mahkota sejenis yang biasa disebut “pogokan”, sedangkan prajurit wanita mengenakan mahkota seperti yang dikenakan Srikandi (dalam wayang orang di Solo). Selebihnya baju yang dikenakan relative sederhana dan tidak terlalu glamour sebagaimana seni klasik.

3) Jaranan Sentherewe

                Jaranan Sentherewe berkembang luas di Tulungagung dan Kediri. Fragmen cerita yang diambil pada jaranan Sentherewe sama dengan jaranan yang lain, namun busana yang dikenakan adalah busana wayang orang Surakarta (wayang wong Surakarta). Selain itu, gerak tari sudah banyak dipengaruhi oleh tari Ngremo yang terlihat pada gerakan kaki yang sangat menonjol. Pemain Jaranan Sentherewe ini sangat banyak yaitu sekitar 16 hingga 28 orang, berpasangan sehingga jumlah pemain selalu genap. Walaupun begitu mereka tidak tampil secara bersamaan melainkan bergantian masing-masing 4 (empat) orang sehingga pertunjukan ini berlangsung relative panjang. Di sela-sela kemunculan para penari Jaranan biasanya diselingi dengan kemunculan penari yang mengenakan topeng binatang imaginary seperti, misalnya: naga atau kuda yang bertarung, juga muncul penari yang berperang sebagai babi hutan, dengan cara penari inilah kemudain para prajurit berkuda bertarung. Pertunjukan ini biasanya dilakukan di lapangan terbuka dan berlangsung sekitar 6 (enam) hingga 8 (delapan) jam. Biasanya akan berhenti ketika salah satu atau beberapa pemain sudah mengalami kesurupan (in trance).

4) Jaranan Breng

                Jaranan Breng menggambarkan prajurit berkuda yang berperang melawan binatang imaginary dalam bentuk barongan (jepaplokan). Semua penari laki-laki dewasa yang terdiri dari 4 (empat) orang penari, yang biasa disebut rong sakit. Seorang penari lain berperang sebagai binatang yang bentuk kepalanya hampir seperti kuda atau naga. Satu atau dua orang berperan sebagai ThethekMelek yang berperan sebagai pelawak sekaligus penjaga arena dari serbuan penonton.

                Gerak tari penari menunjukkan gerakan tari kuda dengan hentakan yang seirama dan ritmus sehingga menimbulkan kesan yang indah, tangan bebas menari dengan menggerakkan selendang yang dibawa. Walaupun secara garis besar meniru tarian daerah Jawa Tengah yang disadur sehingga menjadi lebih sederhana dan tidak rumit, serta cenderung pada gerak yang kewanitaan. Pada pementasannya biasanya para penari Jaranan juga menunjukkan kebolehan serta kekebalan yang dimilikinya. Apabila para pemain yang berperang sebagai celeng sudah sampai pada tingkat kesurupan (in trance) maka tingkah lakunya sudah tidak terkontrol lagi, mereka bisa memakan apapun yang dihidangkan padanya. Sebagai pengiring, menggunakan iringan yang terdiri dari angklung bambu 3 (tiga) buah, kempul, gong suwukan. Pertunjukan Jaranan Breng ini biasanya dilaksanakan di tempat terbuka. Selain tampil pada acara tertentu juga menerima undangan untuk tampil pada acara seorang yang punya hajat. Biasanya rombongan kesenian kuda Breng ini juga menggelar permainan di tempat ramai, penonton yang datang akan di hidangkan tempeh bambu dan diminta untuk menyumbang uang sekedarnya.  Busana yang dikenakan relative sederhana, para pendukung kuda Breng ini hanya menggunakan celana panji sebatas mata kaki yang dililit dengan kain jarit sepanjang lutut dan tanpa mengenakan baju.

5) Jaranan Buto

                Kesenian Jaranan Buto terdapat di Banyuwangi, Jawa Timur. Jaranan Buto ini agak lain dengan Jaranan pada umumnya karena sarana yang digunakan bukan Jaranan yang terbuat dari anyaman bamu melainkan dari kulit lembu atau kerbau, bagian badan ditatah menyerupai bentuk kai kuda sedangkan bagian kepala berupa raksasa (Bahasa Jawa: buto). Tokoh ini merupakan gambaran dari kuda milik AmirHamsyah yang disadur dalam sastra Persia, disebutkan bahwa AmirHamsyah memiliki kuda berkepala raksasa dan bersayap yang bernama Sekardiyu atau Kalisahak.

                Tarian jaranan Buto dimainkan oleh 6 (enam) orang penari laki-laki. Mereka menari dalam gerak meniru tingkah laku penunggang kuda, para penari dilengkapi dengna cemeti sebagai alat untuk melajukan jalan kuda. Dalam salah satu gerakan terkadang para penari meletakkan kuda di sebelah kanan, seperti dalam gerakan menuntun kuda.  Kadang-kadang penari menidurkan sebagai gambaran kuda sedang di kandang, sedangkan penarinya menari dengan gerakan duduk.

                Jaranan Buto ini biasanya dipentaskan di halaman rumah atau apabila ada seseorang yang mempunyai hajat perkawinan, khitanan, dan sebagainya, pemetasannya biasanya bersamaan dengan pementasan Barong Banyuwangi, Hadrah Kuntulan serta pertunjukan lain.

                Busana yang dikenakan para penari adalah celana panji sepanjang lutut dilengkapi dengan rompi bermotif sulur dari benang emas. Dalam pementasannya, jaranan Buto diiringi dengan angklung Banyuwangi.

                Jaranan Buto juga dikenal di Blitar, Jawa Timur, keseluruhannya sama yang membedakan hanya music pengiring. Di Blitar, music pengiringnya sama dengan jaranan pada umumnya yaitu gamelan.

6) jaranan Pegon

                Jaranan Pegon merupakan penggambaran prajurit berkuda serta peperangan prajurit melawan suatu wujud binatang imaginary yang berwujud naga yang kemudian disebut jepaplokan (karena rahang atas dan bawah dibuat terpisah sehingga bisa digerakkan). Pemain jaranan Pegon terdiri dari 4 (empat) orang yang semuanya laki-laki dewasa. Biasanya ada lagi yang berperan sebgai Thethek Melek, Bancak-Doyok atau Penthul- Tembem, yang berfungsi sebagai pelawak sekaligus penjaga arena pertunjukan. Selain itu, juga dilengkapi dengan seorang pemain yang membawa babi dari kulit lembu dan berperang sebagai babi hutan.

7) jaranan Ponoragan

                Jaranan Ponoragan adalah bagian dari pertunjukan Reog Ponorogo, yang dilakukan oleh remaja putrid yang menari dengan meniru gerak orang yang menunggang kuda. Sebagai sarana dalam menari sekaligus untuk menjelaskan bahwa mereka adalah pasukan penunggang kuda (prajurit penunggang kuda) maka para penari menggunakan sarana berupa mainan berbentuk kuda yang dibuat dari anyaman bambu dengan panjang sekitar 1 meter. Mainan kuda ini sering disebut kuda kepang atau kuda lumping (Jaranan atau eblek).

                Dalam satu kelompok penari, gerakan tari mengutamakan keseragaman hentakan kaki serta langkah. Dalam suatu pagelaran Reog Ponorogo yang lengkap, jaranan Ponoragan dimainakn pada awal pertunjukan, biasanya mereka menari perang secara berpasangan biasanya berjumla 4 (empat) orang atau kelipatannya. Yang menarik untuk di lihat adalah para penari jatilan waktu dulu, terdiri dari anak remaja laki-laki yang berparas cantik (ganteng) berusia antara 12 tahun sampai 15 tahun. Di Ponorogo, mereka biasa disebut gemblak. Namun saat ini, pemain jatilan tidak lagi seorang anak laki-laki, melainkan seorang remaja putri. Para penari menggunakan atribut prajurit kuno, celana panji, bahkan akhir-akhir ini menggenakan kacamata hitam dan kaos kaki putih.

                Dalam perkembangan kesenian jaranan Ponoragan ini sering berdiri sendiri, bahkan ada beberapa yang dilengkapi dengan Jepaplokan, adegan acrobat yang memamerkan kemampuan dan kekuatan seseorang dan beberapa adegan yang mengarah pada kesurupan.

8) jaranan Guyang

                Jaranan Guyang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Disebut juga Tari Angklung merupakan tari kreasi baru. Tari Guyang merupakan salah satu pengembangan dari tarian Gandrung. Biasanya ditarikan oleh seorang gadis cantik dan seorang pria tampan, tarian ini bertema romatis, menggambarkan ketika sang perjaka jatuh cinta pada sang gadis, agar cinta mendapat balasan maka sang perjaka menggunakan aji-aji jaran goyang.

                Tari Guyang merupakan tari lepas, biasanya ditampilkan pada acara tertentu seperti perkawinan dan sebagainya. Penari laki-laki mengenakan celana pani dengan pipa lebar sedangkan penari wanita mengenakan kain panjang dan kebaya, keduanya mengenakan sampur panjang yang bertujuan untuk memperjelas serta memperkuat arti simbolik tema tarian tersebut.

9) jaranan Kencak

                jaranan Kencak disebut juga kuda kencak, jaran konyong dan jaran sirig, jaran Nandak, merupakan suatu seni yang berkembang di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Jember, Bondowoso, dan Sidoarjo, pemeran utama dalam kesenian ini adalah seekor kuda, dua ekor atau kadang-kadang lebih yang menari mengikuti irama music tradisional yang disebut kenong Telok atau kadang-kadang TerbangGendingan. Pada suatu pertunjukan yang lengkap, pada bagian badan dan ekor kuda dihiasi dengan atribut yang sangat indah sebagai penutup. Di atas punggung duduk seorang anak yang sehari kemudian akan dikhitankan. Rombongan ini kemudian berjalan menuju rumah pejabat, pada setiap perempatan atau pertigaan atau di depan pejabat berhenti sesaat dan kuda-kuda tersebut melakukan atraksi dengan iringan music tradisional. Kembali dari keliling menuju rumah pejabat tersebut, maka rombongan arak-arakan menuju ke arena atau lapangan untuk menyaksikan adanya berbagai pertunjukan yang telah disiapkan.

                Pada kepercayaan masyarakat Jawa, seorang anak yang akan dikhitankan harus diperlakukan seperti raja atau bangsawan, karena itu anak tersebut mengenakan busana seperti raja, naik kduay ang dihiasi berbagai atribut sehingga Nampak mewah dan anggung.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Jaranan various art forms in Java

(Source: Himawan.2007. Turonggo Arts Yakso XII. Surabaya; Department of Education and Culture of East Java Province.)

1) Jaranan roof

Roof Jaranan growing arts district Kalangbret, Tulungagung, East Java. Draw the soldiers horseman. Total unrestricted dancers because it's just generally stood clear pairing between six to eight people. All male dancers, each carrying a jaranan. Jaranan referred Jaranan roof because music companion is roof. The roof is cut bamboo in a variety of sizes up when knocked down to produce a variety of sounds that when combined can produce a unique and tasty rhythm in hearing. Roof Jaranan show is usually held in the afternoon after the completion of activities in fields, played with a relatively simple costume, but still depicts a soldier.

2) Jaranan Pogogan

Similar to jaranan Roof, dance Jaranan Pogogan reflects patriots, played by four (4) persons, consisting of a team or Senopati head, thereby Tumenggung war as a comedian and 2 (two) women fought as soldiers. In essence this Pogogan Jaranan dance depicts stories of heroism. Panji story is presented Fragments are snippets when King LembuAmiluhur asking soldiers to find traces of the loss of the crown princess, that DewiSekartaji. In the midst of these scenes happen often humorous scene or dialogue between Tumenggung with soldiers or with penabuh gamelan. As the people at large performing arts, costumes or art movement in this Pogogan Jaranan very simple. Senopati described the crown from cow skin, usually called "Sasra", so Tumenggung, wearing a crown, usually called "pogokan", while the warrior women wear the crown as imposed Srikandi (in motion people in Solo). The rest of the shirt is relatively simple and not too glamorous as classic art.

3) Jaranan Sentherewe

Jaranan Sentherewe expanded in Tulungagung and Kediri. Story fragments taken at the same Sentherewe jaranan jaranan others, but fashion is fashion movie imposed the Surakarta (Surakarta wong movie). In addition, the moves are heavily influenced by dance Ngremo seen in a very prominent foot movement. Sentherewe Jaranan players are very much in around 16 to 28 people, pairing up players always clear. Although they do not appear simultaneously but alternately each four (4) people to show lasts relatively long. In between the appearance of the dancers are usually interspersed with the emergence Jaranan dancer impose such IMAGINARY animal masks, such as: fighting dragons or horses, also appeared as a dancer who fought wild boar, the way these dancers kemudain the saber fight. This show is usually done in the open field and takes approximately 6 (six) to 8 (eight) hours. Usually will stop when one or several experienced players already possessed (in trance).

4) Jaranan Breng

Jaranan Breng describe hussar who fought against the beast IMAGINARY in Barongan (jepaplokan). All adult male dancers ranging from 4 (four) dancers and known as kernel pain. Other dancers war as a form of animal head almost like a horse or dragon. One or two people act as ThethekMelek comedian who acts as guardian of the arena while the raid audience.

Dancer showing dance moves choreographed movement of the horse with the rhythmic stamping and ritmus to cast beautiful effect, hands-free dancing with shawl move brought. Although a great line dance imitating Central Java province sheets to be more simple and not complicated, and prone to motion of femininity. In pementasannya Jaranan dancers usually indicate the ability and possessed immunity. When the players are fighting as it has reached a level of pig possessed (in trance) then the behavior is not under control yet, they can eat whatever is served to them. As an escort, accompaniment using bamboo angklung consists of three (3) units, kempul, suwukan gong. Breng Jaranan show is usually carried out in the open. Apart from appearing on certain events also received an invitation to appear at an event that had a wish. Usually Breng horse art troupe also called games in public, the audience will be offered tempeh come bamboo and asked to donate money for visitors. Clothing that is relatively simple, this Breng horse advocates using only limited by the ankle pants banner wrapped with a cloth over the knee Jarit and no shirt.

5) Jaranan Buto

Arts Jaranan Buto in Banyuwangi, East Java. Buto Jaranan is quite another to Jaranan generally used as a means of non-woven made of Jaranan bamu but from cow or buffalo leather, mounted on the body resembles a horse kai while the head of the monster form (Java Language: Buto). This figure is a picture of a horse owned AmirHamsyah sheets in Persian literature, mentioned that AmirHamsyah have headed monsters and winged horse named Sekardiyu or Kalisahak.

Jaranan Buto dance played by the 6 (six) male dancers. They danced in motion mimics the behavior of a horse rider, the dancers come whip the military as a tool to speed up road riding. In one movement the dancers sometimes put the horse on the right, such as lead horse in motion. Dancers sometimes lull as the horse is in the barn picture, while the dancers dance with motion seats.

Buto Jaranan is usually staged on the home page or when there is a person with intent wedding, circumcision, etc., usually equal to the staging pemetasannya Barong Banyuwangi, Hadrah Kuntulan and other shows.

Clothing that is the dancer is over knee breeches flag patterned vest equipped with suckers from gold thread. In pementasannya, Buto jaranan accompanied by gamelan Banyuwangi.

Buto Jaranan also known in Blitar, East Java, which distinguishes the whole same music only escort. In Blitar, music companion with jaranan in general that is gamelan.

6) jaranan Pegon

Jaranan Pegon a hussar shooting and warfare soldiers fighting a beast exists a tangible IMAGINARY latter jepaplokan dragon (for upper and lower jaws can be moved apart so). Pegon jaranan players consists of 4 (four) people all adult male. Usually there is more to a role as leisure Thethek Melek, Bancak-Doyok or Penthul-Tembem, who works as a comedian once caregivers show arena. In addition, also equipped with a player who brought pigs from cow skin and fight as wild boar.

7) jaranan Ponoragan

Jaranan Ponoragan is part of the Agro Ponorogo show, performed by the dance putrid teenagers imitate the motion of riding a horse. In dance as well as a means to explain that they are a team of horsemen (horsemen warriors) then the dancers use the form means horse shaped toy made of woven bamboo with a length of about 1 meter. Toys are often referred to as horse riding or horse braid lumping (Jaranan or eblek).

In a group of dancers, dance movement prioritize uniformity and step foot shock. In a complete pagelaran Ponorogo Kite, jaranan Ponoragan dimainakn early show, usually they dance in pairs usually berjumla War 4 (four) or multiples thereof. Interesting to see is the dancer in jatilan first time, made up of teens that levels of male beautiful (handsome) aged between 12 years to 15 years. Ponorogo, they are commonly referred to gemblak. But this time, players jatilan no longer a boy, but a teenage daughter. The ancient warrior attributes dancers, flag pants, but lately menggenakan sunglasses and white socks.

In the development of this art Ponoragan jaranan often stand alone, but there are some that come with Jepaplokan, acrobat scenes that showcase the ability and strength of a person and some of the scenes that lead to trance.

8) jaranan Guyang

Jaranan Guyang derived from Banyuwangi, East Java. Dance also called Angklung is a new dance creations. Guyang dance is one of the expansion of the crazy dance. Normally performed by a beautiful girl and a handsome man, this dance beat a romantic theme, describing when the virgin falls in love with the girl, that love get a reply then use the aji-aji virgin rocking horse.

Guyang last dance is dance, usually appearing on specific events like wedding and so on. Male dancers impose pani pants with wide pipe while a waist-length female dancer and the kebaya, both of imposing long sampur intended to clarify and reinforce the symbolic meaning of the dance theme.

9) jaranan Kencak

jaranan Kencak also called kencak horse, and the horse suddenly sirig ing, Aided Nandak, is an art that flourished in Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Jember, Magelang, and Sidoarjo, key player in this art is a horse, two tails or sometimes over the dance to the beat of traditional music called Telok Kenong or sometimes TerbangGendingan. In a complete show, the body and tail of the horse is decorated with beautiful attributes as cover. Sitting on the backs of the day a child will then dikhitankan. The delegation then walked home office, at every crossroad or junction or in the front office and the second stop these horses do attractions with traditional music accompaniment. Back from heading home around the office, then the processional entourage headed to the arena or field to see that there were several shows that have been completed.

In the Javanese belief, a child who will dikhitankan to be treated like a king or noble, because it is imposing his kingly fashion, decorated ang kduay up until you see various attributes of luxury and anggung.














.