Munculnya kesenian Jaranan Turonggo Takso
(sumber: Himawan.2007. Kesenian Turonggo Yakso Trenggalek. Surabaya; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.)
Kesenian Turonggo Yakso berasal dari Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Kesenian berupa Jaranan, kepalanya berbentuk raksasa yang dimainkan minimal oleh 6 (enam) orang pemain jaranan serta beberapa pemain pendukung. Dalam pementasannya berbentuk sendratan yang berisi puji syukur kepada Tuhan.
Masyarakat Dongko mempunyai cerita sendiri mengenai munculnya kesenian Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek tersebut. Pada awalnya di daerah itu dikenal upacara adat (ritual) yang biasa disebut upacara Baritan (bubar ngarit tanduran), yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 longkang (Bahasa Jawa: 1 Suro) atau 1 Muharam.
Tempat upacara adat ini biasanya dilakukan di sawah atau ladang yang selesai dipanen. Upacara ini bertujuan untuk menguapkan rasa syukur dan terima kasih kepada dewa (Tuhan) yang membagi rejeki yaitu Bathara Guru, yang telah melindungi lembuAndini sehingga panen berhasil dengan baik. Bentuk upacaranya masih sangat sederhana, hanya berupa sesaji yang diperuntukan bagi nenek moyang dan dewa pemberi rejeki. Dalam kesehariannya lembuAndini dipelihara oleh seorang tokoh manusia setengah dewa yang bernama Dadung Awuk. DadungAwuk dipercaya sebagai pemelihara hewan, yang mengerti bahasa binatang dan mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan binatang, misalnya dengan kerbau, lembu, dan kuda.
Menurut cerita rakyat setempat pada jaman dahulu kala, daerah Dongkoh khususnya dan Kabupaten Trenggalek umumnya adalah daerah yang subur, panen selalu berhasil, melimpah, ternak gemuk dan sehat, bahkan warga di daerah itu selalu optimis dan yakin dalam menghadapi hidup. Namun karena berbagai sebab yang antara lain karena kemakmuran dan kehidupan yang berlebihan tadi membuat warga melupakan upcara adat Baritan yang biasa dilakukan setiap setahun sekali.
Menurut cerita, seorang tokoh masyarakat yang berpengaruh pada waktu itu karena warga melupakan upacara ritual tersebut, ternyata hal ini membawa akibat yang besar bagi masyarakat Dongko yaitu terjadi banyak bencana, pageblug, banyak penyakit hama yang menyerang tanaman sehingga gagal panen yang terus menerus, banyak penyakit yang menyerang ternak sehingga banyak hewan yang mati, kemarau panjang, bencana tersebut tidak hanya menimpa hewan dan tumbuhan juga menimpa manusia, banyak orang yang sakit dan meninggal. Istilah orang jawa pagi sakit kemudian sore meninggal. Sore sakit, pagi meninggal.
Dengan banyaknya bencana yang terjadi, sehingga banyak orang menjadi bingung dan putus asa, karena ada suatu perasaan yang tidak berdaya dalam menghadapi bencana dan peristiwa yang dianggap luar biasa dalam kehidupannya, maka dalam hati manusia percaya bahwa ada suatu kekuatan di luar kemampuan manusia yang mengatur segala sesuatu kehidupan di alam semesta ini. Kekuatan tersebut oleh manusia akan dihormati, dipuja secara berlebihan, sehingga manusia yang bersangkutan akan menyerahkan diri. Berdasarkan hal tersebut di atas maka sebagian manusia percaya yang berkaitan dengan upacara ritual, maka dapat dikatakan bahwa mereka mempunyai suatu kepercayaan terhadap kekuatan yang dalam konsep religi yang disebut makhluk roh halus yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Sudah beberapa tahun tetap demikian, bencana datang silih berganti, maka pada waktu itu dengan adanya kejadian tersebut membuat seorang tokoh/ sesepuh desa, di pedesaan disebut dukun tergerak hatinya untuk melakukan bertapa (semedi), nyenyepi (menyendiri), ngakoni dan emncoba berkomunikasi dengan dewa pemberi rejeki, apa yang harus dilakukan oleh warga untuk menanggulangi kejadian yang demikian memilukan ini. Setelah melakukan bertapa berhari-hari akhirnya beliau mendapat wisik/ bisikan/ petunjuk bahwa dewa pemberi rejeki marah, karena warga Dongko atau para petai telah melanggar kesepakatan antara dewa pemberi rejeki dan para warga sebelumnya. Kesepakatan tersebut adalah warga akan selalu mengadakan upacara adat Baritan setahun sekali sehabis panen, namun kesepakatan tersebut telah dilupakan oleh warga. Setelah menyelesaikan bertapa, tokoh tersebut segera menyampaikan wisik/ petunjuk yang diterimanya kepada para warga dengan persyaratan tertentu. Akhirnya warga sepakat untuk kembali menyelenggarakan upacara adat Baritan (bubar ngarit tanduran) seperti dulu sebelum terjadi bencana, maka sejak itu bertepatan tahun 1923, mulai diadakan lagi upacara Baritan secara rutin setahun sekali, sebagai wujud rasa syukur tersebut diadakan syukuran berupa sesaji dan makanan (umbo rampe sebagai persyaratan) yang diperuntukan bagi dewa pemberi rejeki dan nenek moyang, dan jika sudah selesai semua warga makan bersama-sama.
Sesaji atau UboRampe yang dipersiapkan untuk upacara Baritan ada bermacam-macam, berbentuk makanan dan lain-lain, setiap benda sesaji baik itu makanan maupun dalam bentuk lain mempunyai makna atau arti simbolik sendiri-sendiri, pada umumnya bermakna suatu harapan kebaikan dan keselamatan dalam kehidupan. UbaRampe atau sesaji tersebut diantaranya:
Ø Jenang Sepuh. Jenang Sepuh dibuat dari bahan beras di beri santan, berbentuk bubur merah dan putih. Jenang atau bubur merah, pada waktu membuatnya diberi gula merah dan santan. Jika sudah matang ditempatkan di piring, separuh putih dan separuh merah atau jenang merah pada bagian tengahnya diberi jenang putih juga bisa sebaliknya. JenangSepuh ini juga dinamakan jenang sengkala atau merah putih, karena sejak dahulu, jika setiap ada kegiatan upacara atau selamatan tidak ketinggalan membuat jenang sepuh.
Ø Mule Meteri berupa ambengan ada dua macam, yakni:
i) Mule adalah yaitu berupa nasi yang dibungkus dengan daun pisang, yang diberi lauk berupa serundeng, tempe goring yang diiris kecil dan irisan telur, sebanyak 5 bungkus.
ii) Meteri adalah 5 piring nasi di atasnya diberi lauk seperti nasi yang dibungkus yaitu serundeng, tempe goring dan irisan telur rebus (telur godog).
Ø Lengkong. Lengkong adalah wadah yang terbuat dari anyaman bambu tipis kecil-kecil, pada bagian tepi dibingkai dengan pelepah pisang (Bahasa Jawa: gedebog) agak kuat. Lengkong ini nantinya untuk tempat/ wadah tumpeng kecil.
Ø Nyambung tuwuh nyiram tuwuh. Nyambung tuwuh nyiram tuwuh adalah semacam gelas/ wadah berisi air dan tanaman (tetukulan) antara lain: daun andong, puring dan pohon pisang kecil (anakan gedang). Andong maknanya “andinga’aken mugi-mugi tetukulan, hewan lain manungsa sami lestari” (mendoakan semoga tanaman, hewan, dan manusia mendapat keselamatan) sehingga ketiga unsure tersebut dapat hidup berdampingan dan saling membutuhkan, manusia membutuhkan hewan, hewan membutuhkan tanaman dan manusia, manusia membutuhkan tanaman sehingga ekosistem bisa terjaga dengan baik. Puring=mure=paring, maknanya “mure rahayune wilujeng enggenipun angawontenaken sodakohan nyuwun dhumateng ingkang Maha Kuwaos, supados tetukulan, hewan lan manungsa sami pinaringan mure (dalam mengadakan selamatan bertujuan untuk minta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar tanamannya, hewan ternak, dan manusia mendapatkan keselamatan). Anakangedang atau pohon pisang yang baru tumbuh, maknanya: “paring pepadang dumateng tiyang ingkang kapetengan, padang angan-angane,padang penggalihe, sehinggo olehe makarya niku penak. Sebab tiyang meniko nek kapetengan sok-sok lupa diri utawi lali (berharap minta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat berfikir positif sehingga dapat bekerja dengan baik).
Ø Pulo gimbal puo gising. Dibuat dari beras keta yang digoreng sangan memakai wajan tanah (Bahasa Jawa: wingko), apabila mulai agak kecoklatan kemudian diberi irisan gula jawa, jika antara ketan dan gula sudah bercampur dengan warna coklat, berarti sudah matang terus diangkat, kemudian diletakkan di piring. Menurut kepercayaan mereka, pulo gimbal pulo gising adalah merupakan makanan para makhluk halus, agar tidak mengganggu tanaman, hewan, dan manusia.
Ø Brokohan berupa tumpeng sedang atau buceng. Tumpeng/ buceng tersebut diletakkan pada lengkongan dan di bagian tepi tumpeng dikelilingi dengan sayuran urap-urap (terdiri dari macam-macam sayur), sayur lodeh, ikan, dan telur. Maknanya “nyuwun kawilujengan dumateng kang Maha Kuwaos (meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa). Tumepng merupakan lambang kekuasaan yang paling tinggi.
Ø Sekul suci ulam sari. Sekul Suci Ulam Sari adalah nasi gurih, dengan lauk ayam panggang utuh tidak dipotong-potong (Bahasa Jawa: ingkung). Menurut kepercayaan mereka, Sekul Suci Ulam Sari dimaksudkan untuk daharan (makanan) Nabi Muhammat SAW., disini ada perpaduan unsure Islam.
Ø Krambil Gundil. Krambil Gundil adalah buah kelapa yang sudah dikuliti tetapi bagian atas serabut masih disisakan kemudian diiakt dengan 3 ler (helai) lawe wenang (benang kapas yang membuat sendiri dengan jantro). Dipilih buah kelapa karena pohon kelapa itu mulai dari batang, buah, dan daun semuah bermanfaat untuk kehidupan manusia sehari-hari. Misalnya: pohon kelapa (Bahasa Jawa: glugu) dapat digunakan untuk membuat rumah, daun kelapa digunakan untuk lidi yang kemudian lidi untuk sapu (membersihkan yang kotor), buah kelapa mulai dari serabut, tempurung, kelapa dan airnya bermanfaat semua. Maknanya dalam kehidupan manusia di dunia diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat.
Ø Pisang raja hijau setangkep (2 sisir). Pisang Raja Hijau Setangkep adalah melambangkan “nangkepaken pangangen-angenene warga masyarakat supaya guyp, manunggal karsa, manunggal cipta, manunggal rasa”. Artinya: memersatukan ide-ide warga masyarakat agar bisa bersatu dalam menjalankan kegiatan pekerjaan, kehendak, pikiran, dan perasaan.
Ø Kembang bore. Kembang bore adalah terdiri dari bunga 3 macam (Bunga mawar, bunga melati, bunga kenanga (bahasa Jawa: Kenongo)), kemudian dicampur dengan bedak (atal). Ketiga bunga tersebut mempunyai arti sendiri-sendiri.
Ø Dadung atau tampar. Dadung atau tampar yang biasa untuk mengikat/ menuntun hewan ternak. Setiap orang yang memiliki hewan ternak datang menghadiri Upacara Baritan sambil membawa hewan ternak, panjangnya sekitar 2,5 meter digulung, kemudian dadung tersebut diletakkan diantara sesaji, agar nanti pada waktu pembacaan mantra oleh pawang dadung tersebut mendapatkan mantra (dimantrai).
Jika sdah selesai upacara, masing-masing orang pulang membawa dadungnya sendiri-sendiri, kemudian disimpan di rumah belakang (dapur), diletakkan di atas pogo (blandar dekat tiang). Apabila nanti sewaktu-waktu ada hewan ternaknya yang sakit, maka dadung tersebut diambil, kemudian direndam dengan air bunga, terus airnya diminumkan pada hewan yang sakit, bagi yang percaya hal tersebut maka hewannya bisa sembuh.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
Advent art Jaranan Turonggo Takso
(Source: Himawan.2007. Turonggo Yakso Arts Psychology. Surabaya; Department of Education and Culture of East Java Province.)
Yakso Turonggo art comes from Dongko District, District of Psychology. Jaranan art form, head-shaped giant played by a minimum of 6 (six) people jaranan players as well as some supporting players. In the play shaped sendratan containing gratitude to God.
Dongko community has its own story about the emergence of art Jaranan Turonggo Yakso in the Trenggalek. At first in the area known traditional ceremony (ritual) ceremony commonly called Baritan (disbanded ngarit tanduran), which is held once a year to coincide with the date 1 longkang (Javanese: 1 Suro) or 1 Muharram.
Place this ceremony is usually conducted in the fields completed harvest. This ceremony aims to vaporize gratitude and thanks to god (God) which divides the fortune that Bathara Guru, who has been protecting crops lembuAndini so successful. Form the ceremony was very simple, just a form of offerings that are intended for the ancestors and gods fortune giver. In the everyday lembuAndini maintained by a demigod character named Dadung Awuk. DadungAwuk trusted as a custodian of the animal, who understands the language of animals, and have the ability to talk with animals, such as buffalo, cattle, and horses.
According to local folklore in ancient times, the area in particular and Trenggalek Dongkoh generally is a fertile area, harvests are always successful, abundant, and healthy fat cattle, even residents in the area are always optimistic and confident in the face of life. But for various reasons, among others because of excessive prosperity and life was making people forget the traditional ceremony Baritan usual once a year.
According to the story, an influential community leader at that time because people forget the ritual ceremony, apparently this has profound implications for society Dongko many disasters that occur, pageblug, many diseases that attack plant pests that continually crop failure, many diseases that attack livestock so many dead animals, drought, disasters are not only afflict animals and plants also afflict humans, many people are sick and dying. The term morning sickness Java people then afternoon died. Sore pain, early death.
With so many disasters, so many people become confused and desperate, because there is a feeling of helplessness in the face of disasters and events that are considered extraordinary in his life, then the hearts of men believe that there is a force beyond human ability that governs all something of life in this universe. The power of human will be honored, revered in excess, so that the human in question would surrender. Based on the foregoing it is believed that most people associated with the ritual, it can be said that they have a belief in the power that the religious concept of the so-called spirit beings that can not be seen with the naked eye.
It has been several years remain so, disasters come and go, then at that time the existence of these events makes a leaders / elders of the village, in the countryside called shaman moved to do penance (meditation), nyenyepi (alone), and emncoba ngakoni communicate with god giver of fortune, what should be done by people to cope with such heartbreaking events. After doing penance days he finally got wisik / whisper / instructions that fortune giver god angry, because people Dongko or the banana has violated an agreement between the gods and the giver of good fortune earlier residents. The agreement is the citizens will always hold a traditional ceremony Baritan once a year after harvest, but the deal has been forgotten by the citizens. After completing an ascetic, the figure immediately convey wisik / instructions it receives to the citizens with certain requirements. Residents finally agreed to re-organize ceremonies Baritan (disbanded ngarit tanduran) as it used to before the disaster, since it coincided in 1923, began the ceremony held again Baritan regularly once a year, as a form of gratitude thanksgiving was held in the form of offerings and food (umbo rampe as requirements) that are intended for gods and ancestors giver of fortune, and when you finish all the residents eat together.
Offerings or UboRampe Baritan prepared for the ceremony there were all kinds, in the form of food, etc., every good thing that the food offerings as well as in other forms having meaning or symbolic meaning on their own, generally means an expectation of goodness and salvation in life. UbaRampe or offerings include:
Jenang Sepuh. Sepuh porridge made from rice in coconut milk give-shaped red and white pulp. Porridge or gruel red, at times making it were given brown sugar and coconut milk. If it is cooked is placed on the plate, half white and half red or red porridge in the middle were white porridge can also be the opposite. JenangSepuh also called porridge sengkala white or red, because long ago, if there is any ceremony or salvation not miss making porridge elderly.
Mule Ambengan meteri be of two kinds, namely:
i) Mule is in the form of rice wrapped in banana leaves, which are given in the form serundeng side dish, fried tempeh is sliced small and egg slices, as many as 5 packs.
ii) 5 plates of rice meteri is above a given side dishes such as rice wrapped the serundeng, fried tempeh and sliced hard-boiled eggs (egg godog).
Lengkong. Lengkong is a container made from thin bamboo into small, framed by the edges with banana leaves (Javanese: tree bar) is rather strong. Lengkong this later to place / small cone container.
tuwuh nyiram tuwuh disconnected. Tuwuh disconnected nyiram tuwuh is sort of glass / container filled with water and plants (tetukulan) are: leaf carriage, croton and small banana trees (papaya saplings). Andong meaning "andinga'aken mugi-mugi tetukulan, other animals manungsa sustainable sami" (pray for good crops, animals, and humans gain salvation) so that the three elements can coexist and need each other, humans require animal, plant and human need, humans need plants so that the ecosystem can be maintained. Croton = mure = Paring, meaning "mure rahayune Wilujeng enggenipun angawontenaken sodakohan nyuwun dhumateng ingkang Supreme Kuwaos, supados tetukulan, animal lan manungsa sami pinaringan mure (in hold salvation salvation aims to ask the Almighty God, in order to plant, livestock, and Human salvation). Anakangedang or new banana trees grow, meaning: "Paring pepadang dumateng tiyang ingkang kapetengan, thinking Angane meadow, prairie penggalihe, sehinggo olehe makarya niku penak. Because tiyang meniko kapetengan nek-pretentious snobs forget yourself utawi anaesthetized (hoping for guidance to God Almighty in order to think positively so that it can work well).
Pulo puo gising dreadlocks. Keta made of fried rice skillet couples wear land (Javanese: wingko), if getting a little brown sugar slices were then given, if the sticky rice and sugar are mixed with brown, meaning ripe continue to be appointed, then put on a plate. According to their beliefs, Pulo Pulo gising gimbal is a food of the spirit, so as not to disturb plants, animals, and humans.
Brokohan a medium cone or buceng. Cone / buceng is placed on lengkongan and at the edge of the cone surrounded by vegetable-ointment ointment (made up of a variety of vegetables), vegetable ve, fish, and eggs. Meaning "nyuwun kawilujengan dumateng Maha Kuwaos kang (ask for salvation to God Almighty). Tumepng is a symbol of power of the most high.
Sekul sacred sari side dish. Holy sekul Sari Ulam is savory rice, with a side dish of whole roasted chicken was not cut (Javanese: ingkung). According to their beliefs, the Holy Sekul Sari Ulam intended to daharan (food) Muhammat Prophet SAW., Here are a blend elements of Islam.
Krambil gundil. Krambil gundil is coconut fruit is skinned but still the top fibers are left then with 3 diiakt ler (strands) lawe arbitrary (cotton yarn to make your own with jantro). Chosen because coconuts from the coconut tree stems, fruits, and leaves beneficial semuah for everyday human life. For example: coconut tree (Java Language: glugu) can be used to make houses, palm leaves are then used to stick a stick for broom (cleaning dirty), coconuts ranging from fibers, shell, coconut water is beneficial and all. Meaning in human life in the world is expected to benefit the community.
setangkep green Plantain (2 comb). Green Plantains Setangkep is symbolized "nangkepaken pangangen-angenene so guyp citizens, united intention, copyrights united, united sense". Meaning: the ideas brought together members of the community to be united in the course of employment, the will, thoughts, and feelings.
Develop bore. Bore flowers are composed of three kinds of flowers (roses, jasmine, ylang flower (Javanese: Kenongo)), then mixed with talc (atal). The third flower has its own meaning.
Dadung or slap. Dadung or usual slap for bind / lead farm animals. Every person who has attended the ceremony livestock Baritan carrying livestock rolled length is about 2.5 meters, then Dadung was placed among the offerings, so that later on when reading the mantra by the handler Dadung get spells (blessed).
If sdah finished the ceremony, each person brings dadungnya home alone, then stored in the back of the house (kitchen), placed on a pogo (beam near the poles). If at any time later there was a sick farm animals, then Dadung is taken, then soaked with water flowers, keep the water drunk in animals who are ill, those who believe that the animals could be cured