catatan kelamku

Segala limpahan rasa syukur aku haturkan untuk Allah yang telah memilih aku menjadi seorang wanita dan telah memberikanku berbagai macam pelajaran dari tikungan-tikungan dalam hidupku.

Telah lama aku kubur semua cerita lamaku, namun hari ini aku ingin membuka cerita itu kembali dan menulisnya agar suatu hari kelak aku bisa membacanya lagi, dan mengenang bagaimana hidup baruku dimulai.

Tahun 2007 adalah tahun tersulit yang pernah kulalui.
Di tahun itu hal yang bahkan tak pernah terbersit dalam otakku terjadi, aku kabur dari pondok yang aku anggap sebagai ibuku sendiri, pondok yang mengajarkanku sholat, mengaji, dan mengajarkanku banyak hal.
Saat itu aku merasa sendiri, berada dalam perasaan takut yang luar biasa karena tak ada seorangpun disisiku, aku marah pada Allah dengan apa yang kualami di rumah dan di pondok, aku merasa tak ada seorangpun yang mengerti  aku.Hingga akhirnya aku mengubah diriku menjadi sosok yang bahkan tak kukenali sendiri, aku ingin orang orang tau bahwa aku bisa menjadi anak nakal, aku lelah menjadi anak baik, dan aku butuh secuil saja perhatian.
Tanpa kusadari aku telah berada di dalam bis yang membawaku menuju surabaya, yang ada dalam otakku hanyalah aku ingin pulang, aku ingin hidup seperti remaja kebanyakan, dan aku pasti bisa meraih suksesku diluar sana.
Semua kaget dengan tindakanku, mamah dan papah seakan tak percaya bahwa anaknya yang bahkan tak pernah mengeluh dipondok berani kabur dari pondok . Eyang dan bupuh dwi bahkan tak henti hentinya kaget dengan kejadian ini, tindakanku ini bahkan sama sekali tak pernah mereka prediksi sebelumnya karena aku tak pernah mengeluhkan apapun selama di pondok.

Tapi bagi mamah tak ada kata mundur dalam melangkah, mamah tau bahwa aku akan sangat malu bila kembali ke pondok, tapi itulah mamahku dengan prinsipnya, 2 hari setelah kejadian itu bupuh dewi dan mamah mengantarku kembali ke pondok namun Allah punya jalan lain bagiku, aku terkena skor 1 tahun dan harus mengulang kelas.Rasanya dunia gelap saat itu,tapi aku hanya bisa pasrah.
Saat itu aku sadar bahwa menjadi yang terbaik bukanlah segalannya, memiliki segalanya juga bukan apa-apa, ketenanganlah dan kesyukuranlah yang mampu membawa kedamaian dalam setiap langkah.
Sejak kelas 1 aku sering mengikuti KMI prima, staff perpus koor, diapinsa diapinru, Lpg/Tpi, Pasus, MALDA, ketua konsul, tapi apa............saat aku terjatuh semuanya tak bermanfaat.

Di saat tersulit dimana aku harus menerima untuk meneruskan belajarku di pondok yang sama dan harus mengulang kelas, saat itu Allah seakan memberiku cahaya indah.
Cahaya yang tak bisa dibeli dan ditukar oleh emas dan mutiara.
Tahukah kalian siapa mereka.
Merekalah sahabat yang walau raganya tak pernah berada disisiku namun semangat dan hati mereka selalu berada disisiku.

Bayangkan betapa hinanya aku saat itu, aku adalah MALDA yang anggotanya adalah orang-orang multitalenta dari setiap angkatan, tapi aku mempermalukan nama MALDA dan angkatan dengan kabur. Namun neni datang dengan kata kata tulus yang penuh dengan kesabaran dan bimbingan. Bels datang sekan aku tak pernah melakukan kesalahan, dia tetap tersenyum untuk q dan berbincang kesana dan kemari seperti biasannya. Dan kak rafika datang dengan sapaan dan tatapan tulus yang tak bisa kulupakan.
 Saat itulah aku mengenal kata sahabat yang sebelumnya hanya kuanggap hanya sebagai simbol belaka.

Di tahun selanjutnya aku datang kembali memasuki pondok dengan perasaan malu, dan takut. Namun mereka menguatkanku. Banyak orang bertanya tanya mengapa aku kabur, namun aku tak pernah bercerita pada siapapun bahkan kepada neni, bels, atau kak rafika, aku hanya ingin cerita itu tersimpan dalam roda waktu yang akan terus berjalan.

Tahun 2008 adalah hidup baru bagiku, di tahun itu aku tak menyetuh satupun kegiatan, ingin rasanya menangis, aku sangat mencintai gugus depanku tapi aku tak bisa berjuang untuknya saat LPG/TPI karena aku berjanji tak lagi mau ikut campur dalam kegiatan apapun. Sejak itu aku selalu menahan diri untuk tidak mengikuti kegiatan apapun karena ternyata semua kegiatan itu dan orang orang didalamnya juga tak bisa berbuat apapun saat aku berada dalam kesulitan dan kesendirian. Tolakan yang paling membuatku seakan ingin mati adalah saat salah satu bagian diskusi datang ke rayonku dan menawariku untuk bergabung dalam Malda kembali bersama para adik kelasku. Saat itu mulutku menolak, namun selama bertahun tahun hingga detik ini hatiku merintih karena tak bisa menyentuh MALDA kembali.

MALDA punya arti besar dalam hidupku karena aku belajar banyak hal dalam malda. Mungkin aku satu satunya anggota malda saat itu yang tidak memiliki talenta apapun. Namun Malda menerimaku dan mengajari aku bagaimana cara berbicara, mencari berita, menulis berita, dan tamil didepan umum. Dan disanalah aku bertemu orang-orang yang berhati tulus.... nens....... indah......... n bels.

Tapi semua berbuah manis, usahaku untuk memperbaiki hubunganku dengan orang tua dan tuhan serta usahaku untuk fokus belajar akhirnya meningkatkan rata-rataku dan mengirimku pada kelas yang jauh lebih baik.

Banyak orang mengatakan bahwa aku rugi dan aku salah saat kabur dan harus mengulag, tapi bagiku tak ada orang yang tau betapa aku merasa bersyukur Allah telah mengariskan ini untukku agar aku bisa belajar arti beryukur dan pasrah padaNYA, dan semua itu jauuuuuuhhhhh lebih berharga bila hanya harus dibandingkan dengan rasa malu dan perjuangan untuk menahan keinginan serta mengulang 1 tahun.

Tikunganku tak sampai disini.
Banyak tikungan yang muncul ketika aku menjadi pembimbing rayon, namun aku rasa banyak pembimbing lain yang merasakan hal yang sama dan cukup diaryku yang menyimpan semuanya.
Yang pasti aku cinta kalian ninsia A 2009 terutama kalian anca, zizeh, menur, ismi, afid,desi, nise....................















.