tapi aku memiliki janji dengan seseorang untuk menantinya datang ke rumah.
aku bingung, semua seakan salah.
lelaki yang pernah q janjikan akan menantinya hingga kini tak pernah menunjukkan batang hidungnya didepan mamah dengan banyak alasan, dia memberiku segalanya.........waktunya, perhatianya, tapi aku tak merasa mamah setuju dengan pilihanku. Jarak yang memisahkan membuatku tak bisa memantau apa yang benar benar dia lakukan, dan jarak pula yang membuat keluargaku ragu, bagaimanapun kami tak pernah tau siapa dia yang sebenarnya.
aku tak pernaah paham kenapa saat hatiku merasakan sesuatu aq harus selalu berfikir. aku tak pernah membiarkan perasaanku berbicara. aku selalu menimbang dan berfikir dampak baik dan buruk dari perasaanku, dan itulah mengapa selama ini aku hanya berusaha menyingkirkan perasaanku kepada temanku itu.
walau aku tau dia lelaki yang baik, pintar, dan cerdas. tapi perlu waktu lama untuk mengiyakan perasaanku sendiri dan mengakui pada diriku sendiri bahwa aku memang suka padanya.
mereka berdua adalah 2 lelaki terbaik yang pernah kutemui.
mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. tapi mamah nampaknya kurang senang bila aku harus berhubungan dekat dan pada akhirnya menikah dengan orang dr luar kota. mungkin bila temanku ini sudah bekerja mamah akan langsung menyetujui, sayangnya ia masih terlalu muda untuk duduk dan bekerja dikantor atau di lapangan.
andai saja perasaan bisa dibalik semudah membalikkan kedua telapak tangan, aku ingin membalikkan perasaan ini dan menjadikannya netral. aku ingin mereka hanya menjadi teman yang selalu mendorong dan saling menguatkan aq.