Prilaku dan Karakteristik Siswa

Prilaku dan Karakteristik Siswa merupakan pembahasan pokok dalam makalah ini. versi aneka ragam makalah bahwa Prilaku dan Karakteristik Siswa adalah tolak ukur untuk menentukan arah dan tujuan yang akan terjadi dalam diri siswa. Prilaku dan Karakteristik Siswa sangat penting untuk diketahui, sebab.. Prilaku dan Karakteristik Siswa mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional. Dengan melaksanakan kegiatan dan pembelajaran dari Prilaku dan Karakteristik Siswa  tersebut, masalah heterogennya siswa dalam kelas dapat diatasi, setidaknya dapat dikurangi.
Pendahuluan
A. PENDAHULUAN
Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadi interaksi antara pengajar dan siswa. Setiap siswa mendapat dan menghadapi tugas belajar dan pengajar harus mendampingi siswa dalam belajar. Keberhasilan proses belajar-mengajar itu—untuk sebagian—dipengaruhi oleh keadaan awal yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kenyataan ini berakibat bagi pengajar, sejauh mana ia harus mengikutsertakan keadaan awal atau ciri khas itu sebagai salah satu titik tolak bagi perencanaan dan pengelolaan proses belajar mengajar.

Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional.[1] Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar.

Dari uraian singkat di atas, diperoleh gambaran bahwa perilaku dan karakteristik awal siswa penting, karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya akan dibicarakan cara mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal mahasiswa. Hasilnya akan menjadi salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk mahasiswa tersebut. Dengan melaksanakan kegiatan tersebut, masalah heterogennya siswa dalam kelas dapat diatasi, setidaknya dapat dikurangi.

B. MENGIDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA

Kemampuan mahasiswa yang ada dalam kelas sering kali sangat bervariasi. Sebagian mahasiswa sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas. Bila pengajar mengikuti kelompok mahasisiwa yang pertama, kelompok yang kedua merasa ketinggalan kereta, yaitu tidak dapat menangkap pelajaran yang diberikan. Sebaliknya, bila pengajar mengikuti kelompok yang kedua, yaitu mulai dari bawah, kelompok pertama akan merasa tidak belajar apa-apa dan bosan.

Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dapat dipilih; pertama, mahasiswa menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan mahasiswa.[2] Pendekatan pertama, mahasiswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Seleksi penerimaan mahasiswa
  • Pada saat pendaftaran mahasiswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program pendidikan yang diambilnya.
  • Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, mahasiswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya.
Proses seleksi ini sering dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal seperti perguruan tinggi dalam menyeleksi calon mahasiswa untuk memasuki unversitas dan sekolah-sekolah menengah swasta yang ingin memilih calon siswa yang baik.

2. Tes dan pengelompokan mahasiswa
Setelah melakukan seleksi seperti dijelaskan dalam butir satu, masih ada kemungkinan pengajar menghadapi masalah heterogennya mahasiswa yang mengambil mata pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti pelajaran untuk mengelompokkan mahasiswa yang boleh mengikuti mata pelajaran tersebut.

3. Lulus mata pelajaran prasyarat.
Alternatif lain untuk butir dua di atas adalah mengharuskan mahasiswa lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program pendidikan di perguruan tinggi terdapat sebagian kecil mata kuliah yang seperti itu.

Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan mahasiswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan mahasiswa. Pada dasarnya, siapa saja boleh masuk dan mengikuti pelajaran tersebut. Mahasiswa yang masih belum tahu sama sekali dapat mempelajari materi pelajaran tersebut dari bawah karena materi pelajaran memang disediakan dari tingkat itu. Mahasiswa yang sudah banyak tahu dapat mulai dari tengah atau dari atasnya. Bahan pelajaran itu didesain untuk dapat menampung mahasiswa dalam tingkat kemampuan awal mana pun. Selanjutnya, mahasiswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain untuk hal tersebut.

Kedua pendekatan di atas bila dilakukan secara ekstrim, tidak ada yang sesuai untuk mengatasi masalah heterogennya mahasiswa dalam sistem pendidikan biasa. Karena itu, terdapat pendekatan ketiga yang mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Pendekatan ketiga ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  • Menyeleksi penerimaan mahasiswa atas dasar latar belakang atau ijazah. Seleksi ini biasanya lebih bersifat administratif.
  • Melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal mahasiswa. Tes ini tidak digunakan untuk menyeleksi mahasiswa, tetapi untuk dijadikan dasar dalam menyusun bahan pelajaran.
  • Menyusun bahan instruksional yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik awal mahasiswa.
  • Menggunakan sistem instruksional yang memungkinkan mahasiswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing-masing.
  • Memberikan supervisi kepada mahasiswa secara individual.[3]
Dari ketiga pendekatan di atas, terdapat tes-tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Perilaku awal dan karakteristik siswa menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan sistem instruksional sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan hasil yang baik.

C. PERILAKU AWAL

Dalam ilmu psikologi, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang tidak dirasakan.[4] Dalam interaksinya, seseorang bisa menimbulkan perilaku yang bermacam-macam. Bila dikaitkan dengan belajar dan pendidikan, perilaku bergeser mengalami sebuah perubahan, misalnya, perilaku buruk menjadi baik, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan lain sebagainya.Dalam menentukan sebuah sistem instruksional, terdapat tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional dalam menentukan prilaku awal siswa, yaitu:
  1. Siswa atau calon mahasiswa
  2. orang-orang yang mengetahui kemampuan mahasiswa atau calon mahasiswa dari dekat seperti pengajarnya terdahulu atau atasannya
  3. pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan tes. Subjek yang memberikan informasi diminta untuk mengidentifikasi seberapa jauh tingkat penguasaan mahasiswa atau calon mahasiswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian.

Teknik yang dapat menghasilkan data yang lebih akurat adalah tes penampilan mahasiswa dan observasi terhadap pelaksanaan pekerjaan mahasiswa serta tes tertulis untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa. Tetapi bila tes semacam ini tidak dapat atau tidak tepat untuk dilaksanakan karena beberapa sebab, penggunaan skala penilaian cukup memadai. Skala penilaian tersebut diisi oleh orang-orang yang tahu secara dekat terhadap kemampuan mahasiswa dan diisi oleh mahasiswa sendiri sebagai self-report.

Tidak semua aspek dari keadaan siswa pada awal proses belajar mengajar sama-sama penting; aspek mana yang penting sebagai titik tolak dalam interaksi guru-murid selama pelajaran berlangsung tergantung dari tujuan instruksional. Misalnya, dalam rangka pelajaran sejarah, tidak relevan ditinjau apakah siswa sudah mampu mengapung dalam air, karena pelajaran itu tidak bertujuan membekali siswa dengan kemampuan berenang. Yang relevan ialah meninjau, sampai berapa jauh siswa memiliki suatu kerangka historis, sehingga peristiwa yang terjadi pada tahun 1990 akan ditangkap sebagai peristiwa yang belum lama terjadi, dibanding dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1950. menyelidiki apakah siswa sudah mampu mengapungkan badannya dalam air (tingkah laku awal), baru menjadi relevan dalam pelajaran pendidikan jasmani yang bertujuan supaya siswa mampu berenang dengan gaya katak (tingkah laku final).[5] Inilah pentingnya bagi pengajar untuk mengetahui perilaku awal siswa, karena dari perilaku inilah tergantung bagaimana proses belajar mengajar sebaiknya diatur dan apakah tujuan instruksional khusus yang mula-mula ditetapkan harus mengalami perubahan. Hal ini lebih-lebih berlaku bila perilaku awal itu menyangkut suatu kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional.

Ketika pengajar telah mengetahui perilaku awal siswa, perlu kiranya memperhatikan hasil tersebut bagi pengembangan tujuan instruksional. Perlu diperhatikan bahwa tugas selanjutnya bagi pengajar tidak hanya sekedar menyesuaikan perilaku awal siswa dengan desain instruksional saja, tetapi lebih dari itu, pengajar harus mempunyai cara dalam memodifikasi tingkah laku awal menjadi tingkah laku final yang ingin dituju. Seorang psikolog terkenal Fred. S. Keller,[6] merancang suatu program modifikasi tingkah laku bagi suatu kursus non gelar dalam psikologi umum telah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga prosedur-prosedurnya dipakai untuk kursus-kursus psikologi atau bidang akademi lain di universitas-universitas beberapa negara. Programnya tersebut menekankan kepada individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa dalam mencapai tujuan instruksional.

D. KARAKTERISTIK AWAL
Di samping mengidentifikasi perilaku awal mahasiswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik mahasiswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Minat mahasiswa pada umumnya, misalnya pada olah raga dan musik, karena sebagian besar mahasiswa adalah penggemar musik, dapat dijadikan bahan dalam memberikan contoh dalam rangka penjelasan materi pelajaran. Kemampuan mahasiswa yang kurang dalam membaca bahasa Inggris merupakan masukan pula bagi pengembang instruksional untuk memilih bahan-bahan pelajaran yang tidak berbahasa Inggris atau menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.

Demikian pula bila mahasiswa senang dengan humor. Pendesain instruksional sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya. Bila mahasiswa sebagian besar tidak mempunyai video di rumah, pendesain instruksional tidak dapat membuat program video untuk dipelajari mahasiswa di rumah. Informasi di atas perlu dicari oleh pengembang instruksional sehingga ia dapat mengembangkan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa/mahasiswa.

Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal mahasiswa sama dengan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interviu, observasi dan tes.[7] Seperti halnya dalam mencari informasi perilaku awal siswa, informasi yang dikumpulkan pendesain instruksional terbatas pada karakteristik mahasiswa yang ada manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional.  

Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari siswa bukan hanya dilihat faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor sosialnya, sebab kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa/mahasiswa.

Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah:


1. Faktor-faktor akademis
- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas
- Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah ditempuh)
- Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
- Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri
- Bagaimana kebiasaan belajar siswa
- Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
- Apakah tingkat intelegensi siswa tinggi, sedang atau rendah
- Apakah siswa mampu membaca cepat
- Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student achievement)
- Bagaimana motivasi belajar siswa
- Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
- Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa.

2. Faktor-faktor sosial
- Umur
- Kematangan
- Perhatian (minat)
- Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas
- Apakah ada siswa yang cacat fisik
- Bagaimana hubungan antarsiswa
- Bagaimana latar belakang sosial-ekonomis.[8]

3. Kondisi belajar
Menurut Dunn dan Dunn,[9] kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Kita sering menyaksikan bahwa anak-anak muda lebih suka belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape recorder di sampingnya, dengan volume yang cukup besar. Sementara orang lain lebih suka belajar dengan ruangan yang tenang.

Dunn dan Dunn membagi kondisi belajar menjadi empat golongan:
  • Lingkungan fisik (physical environment), seperti pengaruh suaru, cahaya, temperatur, dan pengaturan meja-kursi serta perabotan setempat.
  • Lingkungan emosional (emotional environment), seperti, motivasi individu, ketepatan tugas, dan tanggung jawab.
  • Lingkungan sosiologis (sociological environment), seperti kebiasaan belajar/bekerja sendiri atau bersama, tanggapan terhadap orang/pejabat yang sedang berkuasa, dan sebagainya.
Kondisi fisiologis siswa sendiri (student’s owns physiological make up), seperti ketajaman dan kelemahan indera, kebutuhan gizi, tidak atau terlalu banyak mobilitas, penghargaan terhadap waktu sehari-hari, irama kehidupan, dan bagaimana sikapnya terhadap efesiensi tugas-tugasnya.

Untuk mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar tiap siswa, seyogyanya pengajar menyusun kuesioner, atau langsung mencari informasi dari tiap siswa tentang kondisi mana yang lebih disukai. Hal ini akan menolong pengajar dalam membantu cara belajar siswa.

4. Teknik belajar
Ada siswa/mahasiswa yang belajar lebih efektif dan ada yang tidak. Ada yang lebih mudah mengerti dengan pendekatan visual, ada yang mudah menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan, aktivitas fisik, atau simulasi.

Identifikasi teknik belajar ini berkaitan dengan usaha meningkatkan perhatian siswa, dan ini disebut cognitive style mapping. Teknik menyediakan suatu kerangka dalam menggambar dan mencari sebab-sebab, mengapa individu-individu mempunyai teknik belajar yang berbeda-beda. Ada tiga hal yang perlu diuji sehubungan dengan tingkah laku siswa. Sampai seberapa jauh seorang siswa dapat menangkap lambang-lambang teoritis baik berupa kata-kata taupun angka-angka, ketajaman pancaindera, dan penangkapan terhadap hal-hal yang subjektif seperti hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan.
  • Bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dari lambang-lambang teoritis di atas.
  • Bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan, bagaimana pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan proses penyimpulannya.
  • Bagaimana kekuatan daya ingat siswa.[10]
Untuk mendapatkan data dari keempat hal tersebut mungkin bisa melalui tes diagnostig atau kuesioner. Hasil daripadanya merupakan merupakan indikasi karakteristik, latar belakang akademis dan sosial siswa yang akan berguna dalam pelaksanaan, baik pengajaran individu maupun kelompok.

Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner-kuesioner tersebut memungkinkan dosen untuk mengetahui sampai berapa jauh tujuan mahasiswa sesuai dengan tujuan dosen mengenai mata kuliah tertentu. Perlu diperhatikan, bahwa seorang dosen tidak bisa sembarangan dalam merubah mata ajaran hanya untuk menyenangkan satu kelas tertentu. Akan tetapi perlu disadari bahwa apabila tujuan mahasiswa dan dosen mengenai suatu mata ajaran sangat berbeda, maka dosen sebaiknya menyampaikan tujuan mata ajaran secara persuasif dan menerangkan kepentingan serta relevansinya pada permulaan kuliah. Sebaiknya dosen juga meninjau uraian katalog tentang mata kuliah tersebut; apabila tujuan mahasiswa berbeda jauh dengan tujuan dosen, maka uraian mata kuliah tersebut perlu diperbaharui. Setiap perubahan yang berarti harus disetujui oleh panitia kurikulum dan panitia jurusan setempat.[11]
Penutup
E. PENUTUP
Mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik awal siswa merupakan salah satu unsur penting dalam model pengembangan instruksional. Mengidentifikasinya dengan mengemukakan pendekatan “menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan siswa/mahasiswa tersebut”. Karena itu, mengetahui perilaku yang dikuasai mahasiswa sebelum mengikuti pelajaran diperlukan untuk dapat mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. Dengan kata lain, penetapan suatu tujuan instruksional tergantung pada perilaku awal dan karakteristik awal siswa.
Daftar pustaka
DAFTAR PUSTAKA
  • Yusufhadi Miarso..dkk (pen), Defenisi Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1986) h. 47
  • Atwi Suparman, Desain Instruksional, cet. 6 (Jakarta: Universitas Terbuka, 1997), h. 107
  • Ibid., h. 109
  • http://www.pustekom.go.id/teknodik/t13.htm
  • W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, cet. 7 (Yogyakarta: Media Abadi, 2005), h. 150
  • Lihat lebih lanjut, Nana Sudjana, Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia ), h. 26-27
  • Suparman, Desain ., h. 113
  • Mudhoffir, Teknologi Instruksional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h. 101-102
  • Rita Dunn & Kenneth Dunn, Educator’s Self Teaching Guide to Individualizing Instructional Programs (New York: Parker Publishing Co., 1975), h. 74-93, sebagaimana dikutip Mudhoffir, Ibid.
  • Mudhoffir, Teknologi Instruksional., h. 103
  • Mozes. R. Toelihere & Yuhara Sukra, Pedoman Perbaikan Pengajaran, (Jakarta: UI-Press, 1988), h. 8-9
Footnote
Footnote
  • Atwi Suparman, Desain Instruksional, cet. 6, Jakarta: Universitas Terbuka, 1997
  • http://www.pustekom.go.id/teknodik/t13.htm
  • Mozes. R. Toelihere & Yuhara Sukra, Pedoman Perbaikan Pengajaran, Jakarta: UI-Press, 1988
  • Mudhoffir, Teknologi Instruksional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999
  • Nana Sudjana, Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • Rita Dunn & Kenneth Dunn, Educator’s Self Teaching Guide to Individualizing Instructional Programs, New York: Parker Publishing Co., 1975
  • Yusufhadi Miarso..dkk (pen), Defenisi Teknologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 1986
  • W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, cet. 7, Yogyakarta: Media Abadi, 2005













.