Membandingkan Puisi lama dan Puisi modern/ Poetry comparing old and modern Poetry FOR GENERAL INDONESIAN


Membandingkan Puisi lama dan Puisi modern

(Sumber: bahasa Indonesia)

I) Puisi Lama, berdasarkan jenisnya, puisi dibedakan menjadi:

A) Mantra. Matra merupakan bentuk puisi yang paling tua. Mantra berhubungan dengna sikap religious manusia untuk memohon sesuatu kepada Tuhan. Oleh karena itu, diperlukan kata-kata pilihan yang berkekuatan gaib yang oleh penciptanya dipandang mempermudah kontak dengan Tuhan. Contoh:

Seri Dangomala, Seri Dangomala!

Hendak kirim anak Sembilan bulan,

Segala inang, segala pengasuh.

Jangan beri sakit, jangan beri demam,

Jangan beri ngilu dan pening,

Kecil menjadi besar,

Tua menjadi muda,

Yang tak kejap diperkejap

Yang tak sama dipersama

Yang tak hijau diperhijau

Yang tak tinggi dipertinggi,

Hijau seperti air laut,

Tinggi seperti Bukit Kap.

Oleh: Skeat

Dari: Malang Magic

B) Bidal. Bidal merupakan kata-kata kiasan dengan tujuan tertentu. Misalnya: sepasang subang dikiaskan kepada gadis yang masih suci. Macam-macam bidal sebagai berikut.

1) Pepatah adalah kiasan yang dipergunakan mematahkan pembicaraan orang lain. Contoh:

Ø  Air beriak tanda tak dalam

Ø  Air jernih ikannya jinak

2) Ungkapan adalah kiasan yang sangat singkat, biasanya dinyatakan dengan sepatah atau dua patah kata. Contoh:

Ø  Jangan mudah percaya terhadap kabar angin.

Ø  Karena sikapnya yang rendah hati, Anita mempunyai banyak teman

3) Perumpamaan adalah kiasan yang dipergunakan untuk perbandingan yang ditandai dengan kata-kata: bagai, sebagai, seperti, baik, laksana. Contoh:

Ø  Bagai menghasta kain sarung

Ø  Seperti mendapat durian runtuh

4) Tamsil adalah kiasan yang berima atau bersajak, dan berirama. Contoh:

Ø  Diam ubi, makin lama makin berisi.

Ø  Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi

5) Ibarat adalah kiasan yang dipergunakan untuk lambang suatu perbuatan. Contoh:

Ø  Bagai bunga segar dipakai layu dibuang

Ø  Ibarat perahu takkan karam sebelah

6) Pemeo adalah kata-kata yang dipergunakan sebagai slogan untuk membangkitkan semangat. Contoh:

Ø  Sekali merdeka, tetap merdeka

Ø  Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

c) Pantun

                pantun adalah puisi Indonesia asli. Dilihat dari bentuknya, pantun memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1) Terdiri atas empat baris, dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi

2) Bersajak a-b-a-b.

3) Tiap baris terdiri atas empat sampai lima kata.

4) Tiap baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.

Dilihat dari isinya, pantun terbagi menjadi sebagai berikut:

1) Pantun anak-anak adalah pantun berduka cita, pantuk bersuka cita

2) Pantun pemuda adalah pantun dagang atau nasib, pantun perkenalan, pantun berkasih, pantun beriba hati, pantun jenaka.

3) Pantun orang tua adalah pantun nasihat, pantun adat, pantun agama.

Contoh:

Anak ayam turun sepuluh,
mati satu tinggal sembilan.
 Tuntut ilmu bersungguh-sungguh,
jangan sampai ketinggalan.

d) Pantun kilat dan karmina

Pantun kilat pada dasarnya sama dengan pantun, tetapi hanya terdiri atas dua baris dan bersajak a-a pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi. Contoh:

Ø  Sudah gaharu, cendana pula.

Sudah tahu, bertanya pula

Ø  Dahulu parang, sekarang besi.

Dahulu saying, sekarang benci.

e) Seloka

                seloka adalah pantun berkait atau pantun berantai. Ciri seloka:

Ø  Kalimat kedua dan keempat pada bait pertama menjadi baris pertama dan ketiga pada kedua. Demikian seterusnya.

Ø  Isi, sajak, dan irama sama dengna pantun.

Contoh:

Jalan-jalan sepanjang jalan,
singgah menyingga dip agar orang.
Pura-pura mencari ayam,
ekor mata di anak orang.

Singgah menyinggah dip agar orang,
enak bicara sambil berjalan.
Ekor mata di anak orang,
Bisa untung mendapat kenalan.

f) Talibun. Talibun pada dasarnya sama dengan pantun. Talibun memiliki ciri sebagai berikut:

1)  terdiri atas enam atau delapan atau sepuluh baris.

2) Sebagai baris berupa gambaran alam, sedangkan sebagian baris terakhir merupakan isi yang sebenarnya.

3) bersajak a-b-c/ a-b-c, a-b-c-d/ a-b-c-d, a-b-c-d-e/ a-b-c-d-e.

Contoh:

Kalau anak pergi ke pecan (a)
Yu beli belanak pun beli (b)
Ikan panjang beli dahulu (c)
Kalau anak pergi berjalan (a)
Ibu cari sanak pun cari (b)
Induk semang cari dahulu (c)

g) Syair

                syair berasal dari bahasa Arab: syu’ur yang berarti perasaan. Ciri syair:

1) Satu bait terdiri atas empat baris yang merupakan isi semua (tidak ada sampiran)

2) Tiap baris terdiri atas empat sampai lima kata.

3) Tiap baris terdiri atas delapan sampai sepuluh suku kata.

4) Bersajak a-a-a-a.

Contoh:

Berhentilah kisa raja Hidustan,
Tersebutlah pula satu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.

h) Gurindam. Ciri gurindam:

1) Terdiri atas dua baris

2) Baris pertama merupakan perbuatan dan baris kedua merupakan akibatnya.

3) Bersajak a-a.

Contoh:

1) Kalau terpelihara mata, (a)
Kuranglah cita-cita. (a)

2) Kalau terpelihara kuping, (a)
Kabar yang jahat tiada damping. (a)

3) Kurang pikir kurang siasat, (a)
Tentu dirimu kelak tersesat. (a)

II) Puisi Baru

                Puisi baru dimulai pada jaman angkatan pujangga baru. Ciri puisi baru bertentangan dengan puisi lama. Jika pada puisi lama ada aturan jumlah suku kata tiap baris, jumlah kata tiap baris, jumlah baris tiap bait, dan sebagainya. Puisi baru tidak demikian. Puisi baru sudah bebas dari aturan tersebut. Berdasarkan bentuknya, puisi baru terbagi sebagai berikut.

a) Distikon, terdiri atas dua baris tiap bait. Contoh:

……
Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas
Kulit demi kulit

Juga dagingku selapis demi selapis
Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Oleh: Subagio Sastrowardoyo

b) Terzina, terdiri atas tiga baris tiap bait. Contoh:

Di Mana Tempat Cinta Sejati

Bukan di rimba lebat nan sunyi,
Bukan di puncak bukit yang tinggi,
Bukan di pinggir samudera yang sepi.

Jangan dicari di tempat memuja,
Di kuil tempat membakar dupa,
Di dalam gua tempat bertapa.

(Oleh: Intoyo. Dari: Pujangga baru)

c) Quartain, terdiri atas empat baris tiap bait. Contoh:

Sebab Dikau

Kasihan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membunga cinta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku

Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpin lagi penari
Sadr siuman bertukar-tukar
……

(Oleh: Amir Hamzah. Dari: nanyi sunyi)

d) Quint, terdiri atas lima tiap bait. Contoh:

Hanya kepada Tuan

Satu-satu perasaan
Yang saya rasakan
Hanya dapat saya katakana
Kepada Tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya resahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada Tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
…..
(Oleh: Or Mandank. Dari: Pujangga Baru)

e) Sextet, terdiri atas enam baris tiap bait. Contoh:

Jiwa Telah Meranggas

Jiwaku pohon telah meranggas,
Terunjam terhening di senja hari,
Mengedangkan tangan tegang mati,
Hari bening tentang suci,
Bulan bersih di kelir terentang,
Sepi sunyi alam menanti.

(Oleh: Armijn Pane. Dari: Jiwa Berjiwa)

f) Septine, terdiri atas tujuh baris tiap bait. Contoh:

Gunung

Tampak padaku Gunung Semeru
Tinggi tampan bertumpu kukuh
Petir menyambar topan menderu
Gunung bertahan tetap teguh
Gempa gempita gemparkan bumi
Guncang gelombang ngorbankan hati
Gunung menunggu tidak terharu

(Oleh: Intoyo. Dari: Pujangga Baru)

g)Oktaf atau stanza, terdiri atas delapan baris tiap bait. Contoh:

Pertanyaan Anak Kecil

Hai kayu-kayuan dan daun-daunan!
Mengapakah kamu bersenang-senang?
Tertawa-tawa bersuka-sukaan?
Oleh angin dan terang, senang?
Adakah angin tertawa dengan kamu?
Bercita bagus menyenangkan hati?
Aku tidak mengerti kesukaan kamu!
Mengapa kamu tertawa-tawa?

(Oleh: Marius Ramis Dayoh. Dari: Syir untuk ASIB)

h) Soneta, terdiri atas empat belas baris yang terbagi dalam tiga quatrain+ satu distikon, satu quartin+ dua terzina, atau mungkin, dengan variasi yang lain). Contoh:

Pagi-pagi

Teja dan cerawat masih gemilang
Memuramkan bintang mulia raya
Menjadi pudar padam cahaya
Timbul tenggelam berulang-ulang
Fajar di timur datang menjelang.
Membawa pertama ke atas dunia
Seri-berseri sepantun mutia,
Berbagai warna, bersilang-silang
Lambat laun serta berdandan
Timbullah matahari dengan perlahan
Menyinari bumi dengan keindahan
Segala bunga harumkan pandan,
Kembang terbuka, bagus gubahan
Dibasahi embun, titik di dahan.

(Oleh: Muhammad Yamin)

Di Indonesia, sonata dipopulerkan oleh Muhammad Yamin. Oleh karena itu, Muhammad Yani diberi gelar sebagai Bapak Soneta Indonesia.

III) Membandingkan Puisi Lama dan Puisi Baru

Pantun

Kalau tuan mandi ke hulu,
Ambilkan saja bunga kamboja.
Kalau tuan mati dahulu,
Nantikan saya di pintu surge

Coba bandingkan pantun tersebut dengan puisi berikut

Kehilangan Mestika

Sepoi berhembus angin menyejuk dini
Kelana termenung
Merenung air
Lincang bermain ditimpa sinar

                Hanya sebuah bintang
                Kelip kemilau
                Tercampak di langit
                Tidak berteman

Hatiku, hatiku
Belumkah juga sejuk dibuat layu,
Girang beriak mencontoh air,
Atau laksana bintang berbinar-binar
Petunjuk nelayan di samudera lautan

(Oleh: A. Kartahadin)
Setelah membaca pantun dan puisi baru tersebut, kita dapat mengetahui perbedaan keduanya seperti sebagai berikut:

A) Puisi Lama

Ø  Setiap bait terdiri dari empat baris

Ø  Satu bait sudah menyimpulkan satu isi atau membentuk pengertian yang lengkap

Ø  Menggunakan kata-kata klise dan berisi nasihat.

B) Puisi baru

Ø  Banyaknya baris tiap bait tidak tentu

Ø  Terdiri dari beberapa bait yang setiap bait belum membentuk pengertian yang lengkap

Ø  Kata-kata bebas dan menggambarkan perasaan atau keinginan penulis.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Poetry comparing old and modern Poetry

(Source: Indonesian)

I) Old Poetry, by type, poetry can be divided into:

A) Mantra. Matra is the oldest form of poetry. Spells associated dengna human religious attitude to beg something to God. Therefore, the necessary choice of words by the supernatural power regarded creator makes contact with God. Example:

Dangomala series, Series Dangomala!

Nine months was about to send the child,

Any host, any caregiver.

Do not give pain, do not give fever,

Do not give pain and dizziness,

Small to large,

Old to be young,

Who did not wince diperkejap

Unequal dipersama

That is not green diperhijau

High that no enhanced,

Green like sea water,

High as Mount Hood.

By: Skeat

From: Malang Magic

B) thimble. Thimbles are figures of speech with the specific purpose. For example: a pair of earrings is figured to the girl who is still sacred. Various kinds of thimbles as follows.

1) The saying is a metaphor that is used to break the speech of others. Example:

 not sign the rippling water

 Clear water fish benign

2) The phrase is a metaphor that is very short, usually expressed by a word or two words. Example:

 Do not believe the rumors.

 Because of his humble, Anita has a lot of friends

3) The parable is a metaphor that is used for comparison are marked with the words: like, as, like, well, like. Example:

 How menghasta sarong

 As a windfall gain

4) The imagery is figurative or poetic rhyming and rhythmic. Example:

 Silent potatoes, more and more features.

 Elders taro, is increasingly becoming more and more parents

5) Like the metaphor that is used to sign the deed. Example:

 How fresh flowers wilted used discarded

 Like the boat never sank next

6) byword are words that are used as slogans to arouse. Example:

 Once Free, independent

 United we stand, divided we fall.

c) Pantun

Indonesia is the original poem poems. Judging from its shape, rhyme has the following characteristics.

1) Consisting of four lines, the first two lines are sampiran and the last two lines are the contents

2) rhyming a-b-a-b.

3) Each line consists of four to five words.

4) Each line consists of eight to twelve syllables.

Judging from the contents, the poem is divided into the following:

1) Poem is a poem of children grieve, rejoice pantuk

2) Pantun youth are trademarks or fate rhymes, rhymes introductions, rhymes berkasih, compassionate poem, limerick.

3) Poem is a poem counsel parents, traditional rhymes, rhymes religion.

Example:

Chicks down ten,
the dead were nine.
 Science demanded earnestly,
not to be missed.

d) Pantun lightning and karmina

Basically the same lightning rhymes with rhyme, but it only consists of two lines and a rhyming aa sampiran first and second row is the content. Example:

 It aloes, sandalwood anyway.

Already know, ask anyway

 Once machetes, iron now.

Previously saying, now hate.

e) Seloka

seloka is a poem or rhyme chain hooked. Seloka characteristics:

 sentence on the second and fourth lines of the first stanza become the first and third in the second. And so on.

 Content, rhyme, and rhythm at dengna rhymes.

Example:

The roads along the way,
so people stop menyingga dip.
Pretending to look for chicken,
tail in the eyes of the child.

Drop menyinggah dip that person,
good to talk while walking.
Tail in the eyes of the child,
Can fortunately got acquaintance.

f) Talibun. Talibun basically the same as the rhyme. Talibun has the following characteristics:

1) consists of six or eight or ten lines.

2) As the representation of nature in the form of lines, whereas most of the last line is the actual content.

3) rhyming abc / abc, abcd / abcd, abcde / abcde.

Example:

When children go to pecan (a)
Buy mullet yu no buy (b)
Length of fish bought in advance (c)
When children go running (a)
Maternal relatives were searching for (b)
Looking first landlady (c)

g) Poem

derived from the Arabic poem: syu'ur meaningful sense. Characteristics of poetry:

1) One stanza of four lines that are all the contents (no sampiran)

2) Each line consists of four to five words.

3) Each line consists of eight to ten syllables.

4) rhyming a-a-a-a.

Example:

Stop purse Hidustan king,
Tersebutlah also one word,
Excellency Sultan Abdul Hamid Shah,
Sit king enjoy oneself.

h) couplets. Characteristic couplets:

1) Consisting of two rows

2) The first line is the second line of action and a result.

3) a-a rhyme.

Example:

1) If you maintained eye, (a)
Kuranglah ideals. (A)

2) If maintained ears, (a)
Evil tidings no damping. (A)

3) Less thought less finesse, (a)
Sure you lost later. (A)

II) New Poetry

New poetry began at the time of generation of new poets. Characterize the new poetry poetry against the old. If there is a rule in the old poetry the number of syllables per line, number of words per line, number of lines of each stanza, and so on. Poetry is not so new. New poems have been free from the rule. Based on the shape, the new poems are divided as follows.

a) Distikon, consists of two lines of each stanza. Example:

......
I put it on the table and then exfoliated
Skin for skin

Also flesh layer by layer
Also fragments of broken bones

By: Subagio Sastrowardoyo

b) Terzina, consists of three lines of each stanza. Example:

Place Where True Love

Not in the dense jungle nan lonely,
Not at the top of a high hill,
Not on the edge of a deserted ocean.

Do not look at the worshiping place,
Place burning incense in the temple,
In the cave where imprisoned.

(By: Intoyo. From: New Poet)

c) Quartain, consisting of four lines of each stanza. Example:

Because Thou

Pity because thee life
Florets all tore flap
Become like a flower of love in my heart
Fragrant juice in my heart

Live like a dream
Behavior plays in screen terkelar
I'm the leader of another dancer
Sadr sober rotatory
......

(By: Amir Hamzah. From: Nanyi silent)

d) Quint, each consisting of five stanzas. Example:

Only to Mr.

One-on-one feeling
I tasted
I can only say
To Mr.
Who never felt

The one anxiety
What I resahkan
I can only profiled
To Mr.
Diresah ever gelisahkan
.....
(By: Or Mandank. From: New Poet)

e) Sextet, consisting of six lines per stanza. Example:

Has the soul wither

My soul has deciduous trees,
Terunjam terhening at dusk,
Mengedangkan tense hands off,
Clear about the holy day,
Month net stretched in color,
Lonely lonely nature awaits.

(By: Armijn Pane. From: Spirited Soul)

f) Septine, composed of seven lines of each stanza. Example:

Mountain

Looks to me Gunung Semeru
Tall handsome rests firmly
Lightning struck the roaring hurricane
Mount survive remains firm
Earth quake appalling whistles
Wave shook the hearts sacrifice
Mount wait not touched

(By: Intoyo. From: New Poet)

g) Octave or stanza, consisting of eight lines of each stanza. Example:

Kids Questions

Hi woody and leaves!
Why do you have fun?
Laughing enjoy oneself?
By wind and bright, happy?
Is there wind laughs with you?
Aspire to be great fun?
I do not get your favorite!
Why are you laughing?

(By: Marius Ramis Dayoh. From: syir Acquittal for ASIB)

h) sonnet, consisting of fourteen lines divided into three + one distikon quatrain, one quartin terzina + two, or perhaps, with other variations). Example:

Early

Teja and flares are still a hit
Clouding of noble feast
Fading light outages
Arise repeatedly drowned
Dawn in the east came before.
First brought to the world
Series sepantun pearl-glow,
Various colors, cross-cross
Gradually and up
Sun arose slowly
Illuminate the earth with beauty
All harumkan pandanus flowers,
Open flowers, nice composition
Dew, a point on the branch.

(By: Muhammad Yamin)

In Indonesia, the sonata was popularized by Muhammad Yamin. Therefore, Muhammad Yani was named as Mr Sonnet Indonesia.

III) Comparing Poems Old and New Poems

Poem

If the master bath to the upstream,
Just get the frangipani flower.
If you were to die first,
I look forward surge at the door

Just compare the poem with the following poem

Losing Mestika

Gentle soothing breeze blows early
Kelana pensive
Pondering water
Lincang play moonlight

Only a star
Spangled sheen
Lying in the sky
No friends

My heart, my heart
Have not cool also made wither,
Excited imitate rippling water,
Or like a sparkling star
Instructions on ocean fishing sea

(By: A. Kartahadin)
After reading the poem and a new poem, we can figure out the differences between them such as the following:

A) Old Poetry

 Each stanza consists of four lines

 The temple has concluded the contents or form a complete understanding

 Using clichés and unbiased advice.

B) New Poetry

 The number of lines of each stanza are not necessarily

 It consists of a few lines of each stanza are not yet formed a complete understanding

 The words free and the authors describe the feelings or desires.














.