Pembuatan Jaranan di dalam Budaya Turonggo Yakso
(sumber: Himawan.2007. Kesenian Turonggo Yakso Trenggalek. Surabaya; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.)
A) Peralatan yang digunakan
1) Gergaji. Gergaji digunakan untuk memotong dan membelah kayu glondongan yang akan dijadikan barongan, memotong bambu (Bahasa Jawa: pring).
2) Pisau besar dan pisau kecil. Pisau besar banyak fungsinya diantaranya untuk membelah bambu sebagai bahan penggapit jaranan agar lebih kuat, juga untuk meratakan bagian kulit yang agak menonjol atau untuk menipiskan kulit. Pisau kecil digunakan untuk meraut iratan bambu sebagai penggapit agar lebih halus dan digunakan untuk mengukir kepala barongan.
3) Tatah. Bentuk tatah ini ada bermacam-macam, mulai dari yang kecil sampai yang besar dan bentuk mata tatah ada 2 macam yaitu lurus dan cekung. Tatah lurus besar digunakan untuk memotong atau membentuk jaranan bagian luar, sedangkan yang kecil bisa digunakan untuk mengukir hiasan jaranan dan barongan.
Tatah cekung besar dipergunakan untuk memotong bentuk lengkung dan mengukir, sedangkan yang kecil dipergunakan untuk mengukir yang membutuhkan hiasan yang lengkung kecil.
4) Ganden. Ganden dipergunakan bersamaan dengan tatah, yaitu untuk memukul tatah pada saat dipergunakan menatah kulit.
5) Telenan/ lapakan. Telenan/ lapakan dipergunakan untuk landasan pada saat menata (mengukir) jaranan.
6) Pasrah. Pasrah ada 2 macam yaitu manual dan pasrah yang menggunakan listrik. Dipergunakan untuk meratakan ketebalan kulit dan menghaluskan kepala barongan.
7) Wungkal/ batu asah. Alat ini dipergunakan untuk mengasah pisau dan tatah apabila telah terasa agak tumpul.
8) Kuas. Kuas dipergunakan untuk mengecat bentuk detail jaranan dan kepala Barongan.
9) Cat. Cat dipergunakan untuk memberi warna secara detail dari bentuk jaranan dan kepala barongan.
B) Teknik pembuatan Jaranan di dalam budaya Turonggo Yakso
1) Kulit sapi basah/ mentah seberat sekitar 40 kg dijemur dengan cara dibentangkan/ dipentang pada alat khusus penjemuran yang dibuat dari kayu, bentuknya segi empat, pada bagian tepi kulit seluruh dipaku sesuai dengan bentuk kulit, agar terbentang rata tidak melipat sudah kering.
2) Memasak air beberapa baskom sampai mendidih kemudian disiramkan pada kulit beberapa kali sambil dikerok, agar sisa lemak dan daging yang menempel larut, mudah dibersihkan.
3) Dijemur sampai kering betul, lamanya penjemuran ini tergantung pada panasnya sinar matahari. Apabila musim kemarah dengan sinar yang panas sekali lamanya sekitar 7-14 hari.
4) Apabila sudah kering betul baru dilakukan pengerokan untuk menghilangkan bulu-bulu atau dipasrah.
5) Dipasrah (Diratakan) dengan alat pasrah (rataan) yang biasa digunakan untuk memasrah (meratakan) kayu, agar ketebalan rata.
6) Apabila lembaran kulit tersebut sudah kering betul, kemudian baru dipola bentuk jaranan secara keseluruhan dengan pensil lebih dahulu agar semua kulit nanti dapat dimanfaatkan tidak terbuang sia-sia, baru dipotong dengan pisau menjadi 5 buah jaranan kecil, jika membuat jaranan besar ambil jadi 2 jaranan.
7) Bagian kepala ditipiskan dengan dipasrah (alat perata) agar pada waktu digunakan/ pertunjukan mudah digerakkan dan bagian badan tebal agar lebih kuat.
8) Membentuk bagian luar dahulu secara keseluruhan dengan menggunakan tatah lurus dan tatah cekung apabila bentuknya melengkung.
9) Membuat pola/ ngengrengan dengan pensil secara detail bentuk kepala, rambut, badan, tangan, ekor dan sebagainya, agar hasil lebih bagus.
10) Mengukir yaitu membuat hiasan secara detail, dengan menggunakan tatah. Penggunaan tatah yang bermacam-macam tersebut harus disesuaikan dengan bentuk hiasan, untuk tatahan wajah, kepala, badan, ekor dan tangan. Jika sudah selesai semua, baru dihaluskan dengan menggunakan tatah kecil dan membuat ukiran yang kecil-kecil.
11) Agar jaranan tersebut lebih kuat dan tidak mudah rusak, maka bagian tepi badan dan bagian tengah diapit dengan iratan bambu yang diikat dengan senar, agar lebih kuat.
12) Jika sudah selesai semua terakhir adalah mengecat, yang sebelumnya diberi dasar terlebih dahulu agar hasilnya nanti lebih maksimal, kemudian baru di cat yang sesuai dengan bentuk detail yang diinginkan.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
Making Jaranan in Culture Turonggo Yakso
(Source: Himawan.2007. Turonggo Yakso Arts Psychology. Surabaya; Department of Education and Culture of East Java Province.)
A) The equipment used
1) Saws. Saws are used for cutting and splitting wood that will be used barongan glondongan, cut bamboo (Javanese: pring).
2) large and small knife blades. Many functions including a large knife to slice bamboo as a material to make it more powerful jaranan penggapit, also to smooth the skin to thin slightly prominent or skin. Used a small knife to whittle thin strip of bamboo as penggapit to be more subtle and is used to sculpt the head barongan.
3) Tatah. The chisel shape there are various, ranging from small to large and shapes inlaid eyes there are 2 kinds of straight and concave. Great straight chisel is used to cut or form the outer jaranan, while little can be used to carve and garnish jaranan barongan.
Large concave chisel is used to cut and engrave curved shape, while used to carve a small decorative arches requires small.
4) Ganden. Ganden is used in conjunction with the chisel, the chisel to hit when used leather inlay.
5) Telenan / lapakan. Telenan / lapakan used to set the foundation at (carve) jaranan.
6) Abandonment. Perceiving there are 2 kinds of manual and resignation that use electricity. Used to smooth and soften the skin thickness barongan head.
7) Wungkal / grindstone. This tool is used to sharpen a knife and chisel if it has it is rather dull.
8) Brush. Brush is used to paint the head shape and detail jaranan Barongan.
9) Cat. Cat used to give color and detail of the shape jaranan barongan head.
B) making techniques in the culture Jaranan Turonggo Yakso
1) Cowhide wet / raw weighing approximately 40 kg dried by means stretched / dipentang on special drying equipment are made of wood, rectangular shape, the skin around the edges nailed in accordance with the form of the skin, so that lies flat not folded already dry.
2) Cooking a basin of water to boiling and then sprayed on the skin a few times as he scraped away, so the rest of the fat and the meat attached to soluble, easy to clean.
3) dried until completely dried, the drying duration depends on the heat of the sun. If the season with a beam of hot anger once the length of about 7-14 days.
4) When it is dry completely new pengerokan done to remove the feathers or dipasrah.
5) Dipasrah (flattened) by means of surrender (average) which is used to memasrah (leveling) of wood, so that uneven thickness.
6) If the sheet is dry skin very well, then the new patterned jaranan overall shape with a pencil first so that all skins can later be used not wasted, new cut with a knife into small jaranan 5 pieces, if you make a big jaranan take so 2 jaranan.
7) The head thinned with dipasrah (grading tool) so that the time used / performances easily moved and thick body parts to make it more powerful.
8) Establish the outside first overall by using a straight chisel and chisel when the concave curved shape.
9) Create a pattern / ngengrengan with detailed pencil shape of the head, hair, body, hands, tail and so on, so that better results.
10) Engraving of making ornaments in detail, using a chisel. Use a variety of chisel should be adapted to the form of decoration, to inlay the face, head, body, tail and hands. If it is finished, new smoothed by using a small chisel and make small carvings.
11) In order for the jaranan stronger and not easily damaged, so the edges of the body and the center flanked by a thin strip of bamboo tied up with strings, to make it more powerful.
12) If you've completed all of the latter is painted, the previously given basic first so that the results will be maximal, then just paint that conforms to the shape desired detail.