Proses Jalannya Upacara Adat Baritan
(sumber: Himawan.2007. Kesenian Turonggo Yakso Trenggalek. Surabaya; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.)
Para undangan yang ikut menghadiri diantaranya:
Ø Kepala Desa
Ø Perangkat Desa
Ø Sesepuh Desa
Ø Para petani yang memiliki ternak datang, walaupun ternaknya tidak dibawa tetapi diwakili dengan membawa dadung langsung diletakkan di antara sesaji.
Adapun prosesnya yaitu setelah sarana sesaji sudah selesai dimasak dan dipersiapkan, kemudian bersama-sama dibawa ke sawah atau ladang yang selesai dipanen hasilnya. Sesaji tersebut diletakkan di atas tikar. Para undangan yang datang langsung duduk melingkar menghadap sesajian.
Apabila sudah siap semua, acara dimulai, dibuka dan dipimpin oleh sesepuh desa, kemudian sesepuh desa menyebutkan satu persatu sesaji yang disajikan. Sesaji yang berupa makanan dan benda lain tersebut, dimaknai dan diterjemahkan arti simbolis sendiri-sendiri secara lengkap dan runtut dengan menggunakan bahasa Jawa, kadang-kadang kalimatnya berbentuk tembang atau peribahasa (Bahasa Jawa: sanepo) dan kalimatnya panjang sekali, setiap satu benda atau makanan memerlukan waktu sekitar 3-5 menit. Inti dari makna sesaji tersebut merupakan doa dan harapan yang baik, tetapi riil diwujudkan dalam bentuk benda. Contohnya: pertama kali yang disebut adalah jenang sepuh, kurang lebih sebagai berikut: “Jenagn sepuh jenang sengkala abang putih, nyengkalani ibu bumi ibu bapa ingkang kuasa Nabi Adam ….. sinengkoni ing dusun ngriki lan sadulur lima …. Sajodo anggenipuun nyenyuwun dum
ateng Gusti mugi-mugi pinangge sageto tinampi mangge …. Berkat taufik hidaya dan rokhmat … sahingga ingkang dados panyuwunipun la saged kasembadan wilujeng wiwit dinten meniko ngantos sak lajengipun”.
Dalam memaknai sesaji tersebut tidak ada pakem, tetapi para sesepuh desa sudah hafal satu persatu secara otodidak, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga memperoleh pengalaman dari sesepuh yang terdahulu secara turun temurun.
Apabila semua sudah selesai disebutkan dan dimaknai, maka giliran Pak Lurah memohon kepada pinisepuh (mbah dukun): “mbah meniko cekap anggenipun pranata bade nyenyuwun kawilujengan para kawula sadesa, nyuwun sewu hajate dikabulaken, hajate tiyang sak dusun”. (Mbah. Acaranya ini sudah selesai, semua sudah dibacakan, minta keselamatan orang-prang satu desa, semoga hajatan orang satu desa dikabulkan).
Mbah dukun menjawab: “nggih Pak Lurah kulo sekseni, mengke kula ujubaken meniko dipun sekseni”. Terus diujubkan oleh mbah dukun (dengan menggunakan bahasa Jawa) kemudian terakhir adalah: “gembol pujono andro wino” adalah makan bersama, yaitu memakan sesaji yang telah dihidangkan. Sesudah makan bersama, Pak Lurah berkata: “Hasil panen iki ya melimpah ruah bisa kanggo nyukupi kebutuhan selama mongso, saiki ayo dienekake suko kawi suko (tayuban) (Karena hasil panen sekarang ini baik dan berlebihan, bisa untuk mencukupi kebutuhan selama setahun, sekarang mari kita bersenang-senang mengadakan Tayuban).
Langsung diadakan pagelaran: langen tayub lelipur/ langen bekso tayub adalah suatu seni hiburan, mereka menganggap bahwa seni Tayub sebagai produk seni tradisi yang bermakna ritual dan seni klangenan yang sangat menghibur. Pada seni tayub tidak bisa lepas yang namanya para tandhak/ tledhek dapat dikatakan dimana ada tayub di situ ada tandhak, karena para tandhak bertugas menemui para laki-laki menari dan menyanyi lagu-lagu Jawa dengan gerakan pelan juga sambil menyuguhkan minuman keras atau bir kepada para lelaki yang menari, acara ini seringkali menjadi ajang mabuk-mabukan, ketika malam telah larut.
Pertama lagu yang dinyanyikan adalah lagu selamat datang, tledhek tersebut memegang sampur dan mengincar laki-laki yang akan menemani menari (bekso). Para laki-laki duduk/ berdiri berjajar mengelilingi penari, para lelaki tersebut menunggu saat ketiban sampur (mendapat giliran menari/ bekso bersama tledhek), biasanya yang mendapat giliran lebih dulu adalah para pamong desa/ pemuka masyarakat sampai giliran kepada warga masyarakat lainnya, biasanya mereka menyanyi dan menari semalam suntuk, selesai sampai pagi hari. Upacara Baritan (bubar ngarit tanduran) adalah salah satu upacara religi yang unik dan langka yang telah diadakan setahun sekali secara turun temurun hingga tahun 1965. Pada tahun 1965, ada peristiwa Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia (G 30 S/ PKI), karena gejolak partai politik tersebut maka para petani takut untuk mengadakan upacara Baritan, takut nanti dihubungkan dengan partai teralarang (Partai Komunis Indonesia/ PKI) yang namanya ada yang mengadung unsure petani. Ada kekhawatiran bagi masyarakat Dongko, jika dibiarkan saja lama kelamaan upacara Baritan bisa punah.
Untuk mengingat kembali agar anak turunannya nanti mengetahui tentang upacara Baritan walau hanya berupa gambar hewan, maka pada tahun 1972, upaya tersebut pertama kali dirintis oleh Bapak Sutiyono selaku Penilik Kebudayaan Kecamatan Dongko. Beliau berusaha untuk melestarikan dan menghidupkan kembali upacara Baritan tetapi dalam bentuk lain. Kemudian Bapak Sutiyono merekayasa membuat bentuk jaranan dengan kepala lembu/ sapi, jaranan tersebut untuk melestarikan antara cerita upacara Baritan dengan jaranan. Karena pada waktu itu partai politik masih dikuasai oleh satu partai politik (single dominan mayoritas yakni: Partai Golkar/ Golongan Karya), akhirnya jaranan berkepala sapi diprotes oleh warga karena kepala sapi pakai tanduk tersebut hampir menyerupai lambang organisasi tertentu (Partai Demokrasi Indonesia/ PDI dengan lambang banteng).
Usaha penyempurnaan bentuk kepala jaranan tersebut terus dilakukan, karena Bapak Sutiyono sudah meninggal kemudian dilanjutkan oleh Bapak Puguh Darmo, pada tahun 1976 gambar kepala jaranan diganti dengan kepala raksasa (Bahasa Jawa: Buto), dan dinamakan Turonggo Yakso yang artinya: Turonggo berarti kuda (jaranan), Yakso berarti raksasa (Buto), jaranan yang berkepala buto. Turonggo Yakso merupakan suatu perwujudan binatang imaginary. Buto dilambangkan sebagai kekuatan, dan digambarkan dengan bentuk tangan buto yang kuat sebagai mitra yang handal untuk para peteni.
Pada waktu pentas Turonggo Yakso dinaiki oleh seorang satria, yang melambangkan bahwa Buto mempunyai 4 nafsu/ sifat adalah:
Ø Nafsu amarah= suka marah, memaksakan kehendak
Ø Nafsu syaitonah= nafsu seperti setan, suka menggoda
Ø Nafsu lauamah= suka makan
Ø Nafsu serakah= suka memiliki
Turonggo Yakso sebagai mitra pertanian yang dikendalikan oleh seorang satria, satria tersebut harus dapat mengendalikan ke empat bahwa nafsu Buto yang jelek tersebut agar dapat bekerja sama dengan para petani dengan baik, tidak terganggu oleh sifat yang jelek, sehingga rias wajah seorang satria harus seorang pemuda ksatria yang gagah berani dan potensial.
IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):
The course of the process Ceremony Baritan
(Source: Himawan.2007. Turonggo Yakso Arts Psychology. Surabaya; Department of Education and Culture of East Java Province.)
The invitees who attended include:
Village Head
The Villages
village headman
The farmers who have cattle coming, although cattle are not taken but is represented by the carrying Dadung directly placed among offerings.
The process means that after the offering is completed cooked and prepared, then brought together into the finished rice fields harvested. The offerings are placed on the mat. The invitation came directly sit in a circle facing offerings.
When all was ready, the show started, was opened and chaired by the village elders, village elders then enumerate the offerings presented. The offerings in the form of food and other objects are, interpreted and translated their own symbolic meaning fully and coherently using the Java language, sometimes shaped sentence song or proverb (Javanese: sanepo) and very long sentence, every single object or food will take approximately 3-5 minutes. The essence of the meaning of the offerings are a prayer and hope that good, but the real manifested in the form of objects. For example: the first time is a porridge called old, more or less as follows: "Jenagn elder brother sengkala white porridge, nyengkalani mother mother earth father Adam ingkang power ..... ing sinengkoni ngriki lan hamlet sadulur five .... Sajodo anggenipuun nyenyuwun dum
Gusti Ateng mugi-mugi pinangge sageto tinampi mangge .... Thanks Taufik Hidaya and Rokhmat ... sahingga ingkang dados panyuwunipun He saged kasembadan Wilujeng wiwit dinten meniko ngantos sak lajengipun ".
The meanings of the offerings are no grip, but the village elders have memorized each of them self-taught, but do not rule out the possibility they also gain experience of elders who earlier generations.
When all is over stated and interpreted, then turn Pak village chief appealed to elders (shaman champion): "Mbah meniko cekap anggenipun institutions nyenyuwun kawilujengan bade the subjects sadesa, nyuwun sewu hajate dikabulaken, hajate tiyang sak hamlet". (Mbah. Her show is over, all have been read, ask for the safety of the prang one village, hopefully a celebration of the village was granted).
Mbah shaman replied: "Mr. Headman coolies nggih sekseni, Mengke me ujubaken meniko dipun sekseni". Continue diujubkan by mbah shaman (using the Java language) then the last one is: "Gembol pujono andro wino" is a meal together, which takes the offerings that have been served. After eating together, Mr. Headman said: "yields abundant iki ya can kanggo nyukupi need for mongso, saiki let dienekake Kawi Suko Suko (tayuban) (For good harvests and excessive current, can be to meet the needs for a year, now let's we have fun holding Tayuban).
Directly held performances: langen tayub lelipur / langen Bekso tayub is an art of entertainment, they assume that art as a product tayub meaningful ritual art tradition and art Klangenan very entertaining. At tayub art can not escape the name of the tandhak / tledhek can be said that there's no tayub tandhak, because the duty tandhak meet the men dance and sing Javanese songs with slow motion while also serve liquor or beer to the man dancing, this event is often the scene of drunkenness, when the night was late.
The first song is a song sung welcome, it holds sampur tledhek and targeting men who will accompany dancing (Bekso). The men sat / stood in a line around the dancers, the men waited while ketiban sampur (a turn dancing / Bekso with tledhek), usually the first turn is the village officials / community leaders to turn to other community members, usually their singing and dancing all night, finished up the morning. Baritan ceremony (disbanded ngarit tanduran) is one of the religious ceremony is unique and rare held once a year that has been handed down through generations until 1965. In 1965, there were events of 30 September Movement / Indonesian Communist Party (G 30 S / PKI), as the turmoil of the political party then the farmers are afraid to hold a ceremony Baritan, scared later connected with teralarang party (Communist Party of Indonesia / PKI) whose name farmers there that had the same elements. There is concern for the community Dongko, if left alone long run Baritan ceremony could become extinct.
To recall that derivatives children later find out about the ceremony Baritan though only in the form of images of animals, then in 1972, the effort was first pioneered by Mr. Sutiyono as inspectors Dongko Cultural District. He sought to preserve and revive the ceremony Baritan but in another form. Then Mr. Sutiyono manipulate make jaranan shape with ox head / cow, jaranan is to preserve the story with jaranan Baritan ceremony. Because at that time the political parties still dominated by one political party (ie single dominant majority: Golkar Party / Group work), finally jaranan-headed cow because of protests by residents head wear cow horns almost like a symbol of a particular organization (Indonesian Democratic Party / PDI with bull emblem).
Improvements jaranan head shape is continued, because Mr. Sutiyono already died then followed by Mr. Puguh Darmo, in 1976 head shots jaranan replaced with a giant head (Javanese: Buto), and called Turonggo Yakso which means: Turonggo means horse (jaranan ), Yakso means giant (Buto), which is headed jaranan buto. Turonggo Yakso is an embodiment of imaginary animals. Buto denoted as strength, and illustrated with hand shape buto strong as a reliable partner for the peteni.
At the time stage Turonggo Yakso ridden by a knight, which symbolizes that the Buto has 4 lust / properties are:
anger Lust = like angry, overbearing
Lust syaitonah = lust like the devil, likes to tease
Lust lauamah = love to eat
greedy lust = love has
Turonggo Yakso as farm partners are controlled by a knight, the knight should be able to control the four that lust is bad Buto in order to work with the farmers well, not bothered by the ugly nature, so the make-up of a young knight must be a knight the brave and potential